“Berita”

“Hai orang-orang yang beriman apabila datang kepadamu seorang fasik dengan sebuah berita, maka lakukanlah kroscek dari kebenaran berita itu,…”                   (QS. Alhujurat:6).

Ayat di atas memberikan tuntunan kepada kita bagaimana sikap yang seharusnya disaat menerima sebuah berita dengan tidak serta merta menelan sebuah berita yang disampaikan, baik mengenai seseorang ataupun kelompok orang apalagi bila berita tersebut disampaikan oleh orang fasik. Secara umum dengan melihat sifat dan sumber berita, maka berita dapat dikategorikan kepada beberapa kelompok:

Pertama, berita benar dan disampaikan secara benar tanpa dilakukan penambahan dan pengurangan dari peristiwa yang terjadi. Apabila berita yang disampaikan menyangkut  sebuah peristiwa, maka hal tersebut dapat saja diterima secara baik, namun bila berita tersebut berkaitan dengan aib seseorang, maka diperlukan kejelian dalam memilah dan memilih sebuah berita agar tidak terjatuh ke dalam ghibah (bergunjing) atau memfitnah seseorang.

Kedua, berita benar namun telah dilakukan penambahan dan pengurangan oleh pembawa berita sehingga ada kesan berita yang pada awalnya tidak menarik akan menjadi lebih menarik. Berita seperti ini membuka peluang terjadinya ghibah dan fitnah. Baik penambahan maupun pengurangan berita pada dasarnya mengandung unsur adu domba agar yang diberitakan jatuh kredibilitasnya, rusak pamornya pada akhirnya tidak dihargai orang lain.

Ketiga, berita tidak benar dan disampaikan seolah-olah berita tersebut benar dengan cara yang mayakinkan oleh pembawa berita. Berita seperti ini dapat dikategorikan kedalam kelompok fitnah yang dapat membunuh karakter seseorang atau kelompok orang. Tidak sedikit korban yang telah berjatuhan dikarenakan berita bohong, berakhirnya tali persahabat, rusaknya rumah tangga, putusnya tali perkawinan, dua saudara saling bermusuhan, antar kelompok saling serang, hilangnya ketentraman dan ketenangan di tengah-tengah masyarakat dan lain-lain sebagainya.

Keempat, berita burung, adalah sebuah berita yang tidak jelas sumber datanya namun telah tersebar di tengah-tengah masyarakat dengan menciptakan situasi sesolah-olah berita tersebut benar adanya. Burung dijadikan sebagai subjek berita dikarenakan berita tersebar begitu luas namun tidak jelas aktor utamanya.  Berita seperti ini dapat dikategorikan ke dalam berita yang abu-abu dan akan lebih baik apabila berita tersebut tidak perlu ditanggapi secara serius. Berita akan terjadinya bencana besar dengan menentukan waktu dan tempatnya merupakan salah satu bentuk berita burung yang pada dasarnya tidak memiliki sumber data yang jelas dan tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Kelima, berita kaleng atau umum disebut dengan surat kaleng, adalah sebuah berita yang disampaikan oleh seseorang yang tidak diketahui identitasnya, secara substansi boleh jadi berita yang disampaikan benar atau tidak benar. Berita dalam kategori ini sering disampaikan oleh seseorang yang berani berbuat namun tidak berani bertanggung jawab, lempar batu sembunyi tangan, memancing di air keruh, menggunting dalam lipatan, menuhuk kawan seiring, lain di mulut lain di hati. Kelompok ini adalah kelompok orang yang tidak berani menyelesaikan masalah secara baik dan terbuka (Gantleman). Dikategorikan juga ke kelompok ini berita tentang sesuatu yang disampaikan lewat SMS dengan tidak mencantumkan identitas diri.

Bila sebuah berita dikaitkan dengan ruang lingkup sebuah organisasi, maka sebuah oraganisasi akan tetap kokoh dan solid apabila masing-masing dari anggota organisasi cerdas dalam menanggapi sebuah berita yang berkitan dengan anggota lain. Sebaliknya organisasi akan lemah bila mana satu sama lain saling mencurgai dan mudah tersulut dan terprovokasi dengan sebuah berita yang belum jelas akan kebenarannya.

Dalam dunia politik, berita sering kali dijadikan untuk menjatuhkan karakter orang lain dan menaikan pamor diri di tengah masyarakat dan di mata pimpinan untuk mencapai target dan tujuantertentu. Berita yang dipoles sedemikian rupa, menjadikan sebuah berita yang biasa-biasa saja akan menjadi sebuah berita besar dan laur biasa yang kadang kala mempengaruhi berbagai kebijakan.

Berangkat dari tuntunan ayat di atas maka diperlukan adanya kejelian dalam menerima sebuah berita agar kita tidak terjerumus ke dalam berita yang bernuansa gossip, ghibah maupun fitnah. Dalam tuntunan al-Qur’an sudah sangat jelas bahwa ghibah maupun fitnah perlu dijauhi karena akan dapat merusak tatanan hubungan berumah tangga maupun hubungan sosial kemasyarakatan. Ghibah (menyeut-nyebut aib atau kekurangan orang lain) merupakan dosa besar dan diibaratkan dengan memakan bangkai saudara sendiri (QS. Al-Hujurat: 12). Disamping itu fitnah juga merupakan dosa besar bahkan lebih besar dari pembunuhan (QS. Al-Baqarah: 217). Membunuh seseorang secara fisik, maka rasa sakit yang dirasakan hanya satu kali, akan tetapi membunuh karakter seseorang dengan fitnah, maka rasa sakit dan dampak yang ditimbulkan akan dirasakan sangat lama bahkan seumur hidup.

Sebagai seorang pimpinan sikap cerdas dalam menerima sebuah berita juga lebih diutamakan karena berkaitan dengan kebijakan yang akan diambil terhadap bawahan. Tidak sedikit para bawahan yang terzhalimi oleh kebijakan atasan karena ketidakjelian atasan dalam menerima sebuah berita.  Agar tidak salah dalam menerima sebuah berita, maka yang perlu diperhatikan adalah; Pertama, memberikan penilaian terhadap pembawa berita apakah dia orang yang dipercayai atau tidak, Kedua isi berita yang disampaikan apakah bernuansa ghibah, fitnah atau tidak. Ketiga, apakah berita yang disampaikan dalam kategori berita picisan yang tidak perlu ditanggapi atau mungkin berita penting yang memerlukan tindakan antisipasi yang akan dapat merusak organisasi.

Di era globalisasi berita tersebar begitu cepat, bahkan tanpa pengawasan yang memadai, kebutuhan terhadap berita sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar, tanpa berita kita dianggap sebagai orang yang ketinggalan berita karena tidak mengikuti perkembangan. Berkaitan dengan itu dalam menerima sebuah berita sangat diperlukan adanya kearifan, kejelian dan kecerdasan bagi semua pihak dalam mengklasifikasikan sebuah berita agar tidak terjatuh kelembah dosa, kebinasaan dan kehancuran..

Ditulis oleh: Zulman, Pegawai Sub Bagian Tata Usaha BDK Padang, dan telah dimuat pada Majalah Koordinat Volume III Nomor 2 bulan Maret – April 2010

Satu Tanggapan

  1. Terima kasih atas artikel dan makalahnya ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: