Fenomena Kehidupan

Pada umumnya manusia dalam kehidupannya mencari ketenangan dan kebahagiaan, tetapi apa bahagia itu, dimana tempatnya, bagaimana cara memperolehnya hampir pula semua orang mempunyai titik pandang yang berbeda.

Kebahagiaan menurut ajaran Islam disebut sa’adah, sehingga ada satu istilah sa’adatu darain, kebahagiaan didunia dan diakhirat.

Di dalam surat Hud 11 : 108, Allah menjelaskan : bahwa orang-orang yang berbahagia itu berada didalam sorga ( nantinya ) mereka kelas didalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Allah menghendaki pemberian kurnia yang lain yang tidak pernah putus-putusnya.

Masing-masing orang ingin mendapat bahagia, apakah dia berada dikampung, didusun yang berbelakang ataukah berada dikota-kota besar yang serba ada Apakah mereka berada dinegara yang masih terbelakang, Negara berkembang apalagi yang berada dinegara-negara maju.

Namun demikian untuk memperoleh kebahagiaan itu tidak mudah, sedangkan memberi rumusan yang tepat terhadap bahagia itu melelahkan otak dan fikiran pada ahli fikir sejak zaman dulu sampai masa kini.

Masalahnya ibarat memasuki suatu rawa yang luas makin masuk ketengah makin tenggelam dan sulit untuk keluar lagi. Inilah salah satu rahasia, maka Muhammad saw memberikan pegangan terhadap umat islam mengenai criteria bahagia itu agar mereka jangan terperosok kedalam jrurang yang menyebabkan mereka tidak mampu untuk keluar lagi dari jurang tersebut. Dr. Ahmad Zaki telah mencoba mengimpor pikiran-pikiran ahli pikir barat, namun belum berhasil menemukan hakekat bagian itu, ia hanya menemukan satu gambaran bahwa bahagia  itu tidak dapat diberi suatu defenisi, karena dia bukanlah benda, bukan sesuatu wujud yang dapat dilihat secara nyata, dia abstrak, merupakan kenyamanan hidup.

Dua orang pemikir islam terkemuka yakni Syekh Muhammad Abduh Dan Syekh Muhammad Rasyid Reda secara ringkas mengungkapkan bahwa kebahagiaan terletak didalam diri manusia, bukan pada hal-hal yang menempel dari luar, berupa kekayaan, kemewahan dan ketinggian ilmu atau terpandang dalam pergaulan hidup, kata beliau, sa’ada fiddakhil laa fil kharij.

Ingin bahagia tidak mengenal batas, tidak melihat situasi, tidak mengenal golongan ( tingkatan ) penghasilan seseorang. Masing-masing orang ingin bahagia. Kita umat islam dianjurkan untuk memohon dengan nyinyir berdoa kepada Allah setiap saat agar kita memperoleh kebaikan (kebahagaian) didunia dan diakhirat dan terlepas dari kesenggsaraan disampng harus gigih berusaha sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Masing-masing orang memandang bahagia itu dari sudut padang yang berbeda. Seorang petani kecil memandang bahwa pegawai negeri hidup berbahagia, karena jam kerja mereka relatif lebih pendek, berpakaian selalu rapi, jaminan hidup dari bulan kebulan tidak lagi untung-untungan, sudah merupakan penghasilan tetap.

Seorang pegawai memandang bahwa pedagang hidup bahagia, tidak diikat oleh suatu disiplin yang ketat, dapat bekerja disembarang waktu yang diinginkan, tidak terikat oleh tempat, biasa bepergian sesuka hatinya dan kantongnya padat. Begitu pula seorang pedagang memandang bahwa kehidupan sorang petani lebih tenteram dan bahagia dia tidak memikirkan hartanya akan dirampok, dagangnya akan rugi, piutang tak akan dibayar dan tidak perlu memikirkan ini dan itunya lagi.

Kebanyakan manusia melihat milik orang lain lebih berharga dari kepunyaannya sendiri, sehingga dia tidak merasa puas dengan miliknya sendiri. Banyak orang beranggapan bahwa kebahagiaan itu terletak pada kekayaan, kedudukan jabatan kecantikan dan kemewahan-kemewahan lainnya sehingga sering kali untuk mencapai semua itu orang lupa terhadap batas kemampuannya, lupa akan fungsinya garis-garis sepadan kadang-kadang terlampaui dia berbuat diluar batas wewenangnya, dia lupa kepada peringatan Allah berbuatlah sepenuh kemampuan ( menurut fungsimu ) rasul-rasul pun berbuat pula, mana diantara mereka yang akan memperoleh hasil ( kebahagiaan ) dunia ( dari dunia ) ini . Orang-orang yang aniaya tidak akan memperoleh keuntungan ( Al Qur’anul Karim, Surat Al An’Am 6 : 135 ).

Dr. Yusuf Kardawi menegaskan bahwa kebahagiaan bukanlah pada harta yang banyak, kedudukan yang tinggi banyak atau sedikitnya anak, mencapai kesuksesan atau  pada ilmu.

Tetapi kebahagiaan merupakan sesuatu yang abstrak, tidak bisa dilihat mata, tidak bisa dinilai dengan angka, tidak dapat dipenuhi dengan perbendaharaan murah tidak dapat diminta dan mahal tidak dapat dibeli.

Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh manusia pada semua anggota badannya, jiwa yang bersih ( nafsul muthama innah ), ketenangan hati, dada yang lapang, kesegaran jiwa yang timbul dari dalam dan bukan menempel  dari luar. Secara sederhana dapat kita katakan bahwa kekayaan materi dan ketinggian ilmu semata tidak akan mungkin menimbulkan kebahagiaan dan kepuasan jiwa.

Malah kadang-kadang justru adanya fasilitas orang bertambah haus dan gelisah.

Berikut ini dikemukakan pengakuan dua orang ahli fakir barat yang tidak asing lagi

  1. Prof Dr. Albert Einstein, salah seorang ahli fisika / penyelidik atom yang hidup antara tahun 1870-1948, antara lain menyatakan

“ Ilmu tanpa agama akan lumpuh dan agama tanpa ilmu buta.

Maknanya antara ilmu dan agama harus sejalan, tidak boleh pincang kebagahiaan tidak akan ditemukan dengan ilmu saja, karena ilmu kadang-kadang menyeret manusia kepada kesesatan dan kegelisahan hidup.

  1. Prof.Dr.Paul Ehrenfest, guru besar dalam ilmu fisika dan Nutseminarium University di Amsterdam membunuh anak tunggal kemudian dia sendiri bunuh diri.

Sebelum perbuatan nekad tersebut dilakukannya dia meninggalkan sepucuk surat yang berisikan pernyataan bahwa yang tidak dipunyainya adalah kepercayaan ( iman ) kepada tuhan, padahal ini adalah kebutuhannya, inilah yang menyebabkan dia bunuh diri.

Dari pernyataan-pernyatan jelas bahwa kedua orang itu terpelajar, malah guru besar, terpandang ditengah-tengah pergaulan dan mempunyai kekayaan serta fasilitas yang cukup.

Dengan demikian jelas bagi kita bahwa fasilitas, kedudukan dan sebagainya yang bersifat materi tidak menjamin kepuasan dan tidak sepenuhnya membawa kepada kebahagiaan

Hanya keyakinan beragama dan dengan mengingat Allah setiap orang akan memperoleh ketentaranam dan kebagaiaan  tidak diombang ambingkan oleh perasaan was-was, resah dan gelisah. Firman Allah dalam surat Ar-Ra’du 13 : 28 orang-orang yang beriman hati mereka tenteram karena mengingat Allah. Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah ( secara terus menerus ) perasaan akan tenteram ( kepuasan dan kebahagiaan itu baru diperoleh dan dinikmati ).

Sebagaimana diungkapkan diatas bahwa kebahagiaan itu bukan konkret, tidak bias dinilai oleh orang lain, yang bias memberikan penilaian hanyalah orang merasakannya, masing-masing orang terhadap pengalaman hidupnya sendiri.

Apakah dia merasa tenteram dengan miliknya sendiri atau tidak ?

Itulah yang perlu ulang merenungkannya, bagaimana kita memahami, menghayati serta mengamalkannya nilai-nilai agama yang kita miliki, ajaran suci yang telah kita serap dan telah diserap pula menjadi kepribadian bangsa. Dan menjadi kebiasaan kita.

Ada kemungkinan lain, kalau kekayaan yang kita miliki  dan apa saja yang kita peroleh tidak berkat, kurang terasa manfaatnya, mungkin cara memperolehnya kurang wajar, karena lupa kepada Allah yang memberikan milik kekayaan tersebut. Ketika menggunakannya sehingga salah guna.

Mudah-mudahan kita mampu dan mau mengoreksi diri masing-masing dalam usaha kita bersama menggapai dan mencari kebahagiaan itu, Amin Ya Rabbal Alami

Ditulis oleh Drs. Kasdanir D., M.M, Widyaiswara Madya Balai Diklat Keagamaan Padang. Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Koordinat Edisi II nomor 4 bulan Oktober-Desember 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: