Pemantapan Tauhid Melalui Ibadah Qurban

Di tengah-tengah segala persoalan dewasa ini, seolah-olah Allah mendemontrasikan kepada umat akan kemahakuasaan-Nya, yang mampu melakukan segala hal, yang tidak dapat dibendung oleh berbagai ilmu dan kekuatan apapun. Di sisi lain ayat-ayat bencana dibacakan setiap saat untuk mengingatkan bangsa yang sedang lupa, ayat-ayat kauniyah (alam) berbicara dengan bahasanya sendiri, alam menggelorakan tasbih dan kemarahannya, lempeng-lempeng bumi bergeser, gunung berapi meletus yang menimbulkan goncangan luar biasa, bangunan-bangunan roboh menghimpit orang-orang dekat yang kita cintai, semua ini meninggalkan luka melahirkan duka, menumbuhkan kesadaran kita sebagai hamba Tuhan untuk kembali mengikuti tata nilai sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah SWT.
Menurut kacamata agama, apapun bencana yang telah menimpa suatu negeri semata-mata karena kesalahan dan dosa kolektif yang dilakukan oleh seluruh umat manusia. Ayat-ayat yang berbicara tentang bencana yang ditimpakan terhadap umat-umat terdahulu, pada dasarnya tidak terlepas dari kedurhakaan yang telah dilakukan umat terhadap Allah SWT, ayat-ayat Allah diingkari, para Rasul ditentang dan dimusuhi. Untuk kondisi kekinian boleh jadi segala bencana yang terjadi disebabkan oleh  dosa kolektif yang telah kita lakukan; korupsi yang merajalela bahkan dianggap biasa, pemimpin yang dzolim, dosa orang-orang kaya yang tamak dan tidak mengeluarkan segala kewajiban berupa zakat, dosa orang tua yang acuh dengan kerusakan moral para remaja, dosa rakyat yang hanya menunutut kesejahteraan tanpa mau bekerja keras, dosa para tokoh agama yang hanya memberikan tausiah namun  tidak memberikan keteladanan kepada umat, dosa penegak hukum yang tidak menegakkan hukum secara adil, dosa para pedagang yang berdagang secara curang dan menipu,  dosa para umat yang selalu melakukan perbuatan maksiat dan kemungkaran dan dosa-dosa lainnya.
Betapa mudahnya kita terjebak dalam tindakan-tindakan yang menyimpang baik dari sisi agama yang kita anut maupun tata nilai dan etika moral yang kita yakini. Seandaianya perbuatan dan tindakan kita sesuai dengan aturan dan tututan al-Qur’an dan Sunnah Nabi sehinga kita menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa tentu yang akan terjadi sebaliknya, Allah SWT akan mencurahkan barokah kepada negeri  ini dengan limpahan rezki baik yang datang dari langit maupun yang tumbuh dari perut bumi “baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (QS. al-Baqarah,03 dan Al-A’raf , 96)

Logikanya dapat dipahami (mafhum mukhalafah), bila Allah mendatangkan bencana karena dosa-dosa umat manusia maka Allah akan mencurahkan  segala kebaikan yang melimpah karena kita beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Kehadiran Idul Adha di tengah situasi yang memprihatinkan, memiliki makna yang amat penting dalam perspektif ajaran dan makna agama. Idul Adha merupakan ritual keagamaan yang sarat nuansa simbolik-metaforis yang perlu dimaknai secara kontekstual dalam pijakan nilai-nilai universal Islam. Makna terpenting Idul Adha salah satunya terletak pada upaya meneladani ajaran tauhid (monoteisme) Nabi Ibrahim (AS) yang bersifat transformatif. Dalam perspektif Islam, pengalaman rasional dan spiritual yang dilalui Ibrahim mengantarkan kepada keyakinan tentang tauhid sebagai suatu kebenaran hakiki. Ajaran ini meletakkan Allah sebagai sumber kehidupan, moralitas, bahkan eksistensi itu sendiri. Tanpa Allah, yang ada hanya kehancuran, kehampaan, bahkan ketiadaan dalam arti sebenarnya. Keyakinan seperti itu berimplikasi langsung pada keharusan Ibrahim untuk menampakkan eksistensi itu dalam kehidupan nyata sehingga manusia dan dunia dapat menyaksikan dan ”menikmati” kehadiran Sang Pencipta dalam bentuk kehidupan yang teratur, harmonis, dan seimbang.
Bila kita merujuk kepada Al-Qur’an maupun Hadis sering kita jumpai penyebutan Nabi Ibrahim sebagai bapak dari nabi-nabi yang membawa ajaran teologi tauhid atau keesaan Tuhan. Inti pesan inilah yang kemudian diwariskan Nabi Ibrahim kepada nabi-nabi sesudahnya, dan tetap menjadi corak agama-agama sesudahnya. Karena itu, agama-agama yang berafiliasi kepadanya sesungguhya memiliki akar yang sama, yaitu akar ketauhidan. Makanya, sebagian ritualnya yang tidak bertentangan dengan akar ketauhidan tetap dipelihara dan diikuti oleh umat-umat sesudah Nabi Ibrahim. Pengorbanan atau persembahan yang dilakukan Ibrahim merupakan manifestasi dari hal tersebut.

Ibadah kurban pada dasarnya memiliki dua makna pokok, yakni bermakna vertikal dan horizontal. Secara vertikal, kejadian simbolik itu merupakan upaya pendekatan diri (taqarrub) dan dialog dengan Allah dalam rangka menangkap nilai-nilai yang terkandung pada ibadah kurban dari sisi ketuhanan. Proses ini mengkondisikan umat manusia melepaskan segala hawa nafsu, ambisi, dan kepentingan sempit dan pragamatisnya sehingga merasakan diri dekat dengan Allah. Secara horizontal, hal itu melambangkan keharusan manusia untuk membumikan nilai-nilai itu dalam kehidupan nyata. Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman : “Seluruh umat manusia adalah kelurga-Ku dan sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak memberikan manfaat /kebaikan kepada orang lain”. Dalam hadis lain yang diriwaatkan oleh Imam Tirmidzi Rasulullah SAW bersabda : “Dermawan yang mensyukuri dan mencintai kedermawanan sama seperti ahli puasa yang shabar dengan ibadah puasanya” .

Agama telah mengajarkan arti penting ibadah sosial dalam membangun umat dan pengembangan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari refleksi keimanan dan tauhid yang kita yakini. Wahyu Allah SWT kepada Ibrahim untuk mempersembahkan putranya yang kemudian diganti dengan seekor kibas mengandung makna bahwa tidak seorang  manusia pun boleh merendahkan manusia lain, menjadikannya sebagai persembahan, atau melecehkannya dalam bentuk apapun. Sejak awal manusia dilahirkan setara dan sederajat. Nilai-nilai kesetaraan dan sederjat tersebut perlu diaktualisasikan ke dalam realitas kehidupan sehingga dunia dipenuhi dengan kedamaian dan kebahagiaan hakiki. Allah pada hakikatnya tidak membutuhkan apa-apa, termasuk persembahan. Perintah itu hanya untuk menguji ketaatan manusia dalam merespons pesan dan perintah Ilahi dan kesediaannya untuk tidak terikat oleh kediriannya yang subyektif atau hawa nafsu yang menipu. Persembahan kurban adalah suatu simbol yang melambangkan makna yang lebih substansial, yaitu ungkapan ketaatan untuk mengembangkan nilai-nilai agama yang sejatinya selalu bersesuaian dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam hadisnya Rasulullah mengecam keras orang yang tidak peduli dengan lingkungan dan masyarakatnya. “Bukanlah termasuk golongan orang muslim, mereka yang tidak peduli dengan kesulitan suadaranya” (Hadits)
Di tengah kehidupan bermasyarakat, ketika orang kaya hidup mewah disamping penderitaan orang-orang miskin, ketika anak-anak yatim dan mereka yang papa merintih dalam belenggu kemiskinan, ketika para penguasa menutup mata terhadap kebenaran dan keadilan demi kesenangan sesaat, ketika para hakim berpihak kepada ketidakadilan dan memenjarakan orang-orang kecil yang tidak berdosa. Dalam kondisi inilah makna ibadah kurban yang sesungguhnya perlu kita aktualisasikan. Pembelaan kepada mereka yang kurang mampu secara ekonomi, pembelaan terhadap mereka yang mendapat perlakuan tidak adil secara hukum, pembelaan terhadap mereka yang tidak mendapatkan haknya dari penguasa. Ibadah kurban yang sesungguhnya adalah menumbuhkan sikap tenggang rasa dan kepedulian terhadap sesama manusia. “Tidaklah sempurna iman seseorang,  bila dia hidup dalam keadaan kenyang sedangkan dia tahu tetangganya sedang dalam kelaparan” (Hadits.}

Ajaran Islam mengajarkan untuk menyembah hanya kepada Allah (tauhid uluhiyah), dan pada saat yang sama harus pula meyakini, Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, bersifat mutlak, yang mengatur alam semesta (tauhid rububiyah). Keyakinan seperti ini menunjukkan, segala sesuatu yang selain Allah merupakan makhluk yang tidak memiliki hak sedikit pun untuk diperlakukan sebagai Tuhan atau disikapi seperti Tuhan. Pada saat yang sama, hal itu menggambarkan ketidakbolehan manusia untuk diperlakukan manusia lain secara semena-mena atau direndahkan karena manusia di hadapan Tuhan adalah sederajat. Implikasi logis dari hal itu adalah munculnya tauhid sebagai nilai moral dalam kehidupan sosial. Tauhid dalam Islam juga mengandung makna akidah yang menumbuhkan moralitas, masyarakat yang memiliki moral yang baik. Dengan demikian, ada hubungan tak terpisahkan antara nilai-nilai tauhid dengan nilai-nilai pengembangan moral kemanusiaan.

Aspek tauhid dan aspek moral merupakan dua sisi mata uang yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Dalam al-Qur’an Allah  menggambarkan secara nyata  bahwa orang-orang yang tidak memiliki nilai-nilai moral dan solidaritas sosial sebagai seseorang yang mendustakan agama (QS. Al-Ma’un).. Rasulullah dalam pesannya pada khutbah hajji wada’ menyatakan tentang keharusan manusia untuk menjaga hak dan kehormatan orang lain, serta memperlakukan manusia lain seperti memperlakukan diri sendiri. Dengan demikian manusia harus meyakini keesaan Tuhan, dan pada saat yang sama mereka dituntut mengusung nilai-nilai tersebut dalam kehidupan bermasyarakat berupa pengembangan moralitas yang dapat mencerahkan kehidupan umat manusia. Meneguhkan tauhid dan mengembangkan moralitas seperti diungkapkan sebelumnya menjadi sulit untuk dikembangkan dalam konteks kekinian bila tauhid hanya dimaknai sebagai sebuah keyakinan yang tidak dijabarkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, tauhid belum menjadi rujukan moral dalam segala sikap dan perilaku sosial kemasyarakatan. Pengembangan tauhid dalam kerangka pemahaman yang ideal mensyaratkan adanya kesiapan umat Islam untuk merekonstruksi keberagamaan mereka dengan cara memahami dan memaknai ajaran dan nilai agama secara menyeluruh dan menghindari diri dari  pemahaman yang sepotong-potong dan parsial. Umat Islam perlu menyikapi ritual-ritual agama selain sebagai bentuk kepatuhan kepada Tuhan, juga perlu menangkap makna-makna yang terkandung di dalamnya. Ibadah kurban dalam Idul Adha perlu dimaknai dalam kerangka pembumian nilai agama yang memiliki nilai moral yang luas. Ibadah kurban merupakan salah satu bentuk aktualisasi diri sebagai upaya pencapaian nilai-nilai kebaikan sejati yang pada prinsipnya bersifat moralitas dan universal, seperti melepaskan egoisme, berlaku adil kepada siapa saja, dan mengembangkan kesetaraan dan kesederajatan dalam kehidupan.

Pada aspek lain ibadah kurban juga merupakan salah satu bentuk kesyukuran kita kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah dicurahkan, curahan nikmat yang tidak pernah berhenti dan tidak dapat dihitung berapa jumlahnya. Air yang kita minum, udara yang kita hirup, cahaya matahari yang kta nikmati, kehidupan yang kita lalui, hidayah berupa ajaran agama yang kita yakini, reski material yang tak terhingga, merupakan di antara serentetan panjang nikmat-nikmat Allah yang senantiasa kita terima setiap waktu dan setiap saat. Ibadah kurban merupakan persembahan kecil bila dibanding dengan keluasan nikmat Allah. “Sungguh Kami telah mencurahkan kepada kamu nikmat yang banyak, untuk itu (syukurilah) dengan mengerjakan shalat dan berkurban. Sesungguhnya orang yang membenci engkau sungguh dia telah terputus (QS. Al-Kautsar, 1-3).

Marilah kita sisihkan sedikit harta kita untuk melaksanakan ibadah kurban pada Idul Adhha 1430H mendatang, semoga dengan ini kita dapat memaknai akan pentingnya ibadah kurban dalam membentuk pribadi yang bertauhid yang teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari melalui pribadi yang bermoral, tepa selera dan tenggang rasa terhadap sesama. Insya Allah melalui ibadah kurban kita juga beranjak menuju hamba yang mensyukuri segala nikmat Allah SWT, Aamiin yaa Rabbal’aalamiin. (zlm)

Ditulis oleh Zulman, Pegawai Sub Bagian Tata Usaha Balai Diklat Keagamaan Padang, pernah dimuat dalam majalah Koordinat Edisi III Nomor 3 bulan Mei s.d September 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: