Hikmah Dibalik Tragedi Gempa 30 September 2009

Balai Diklat Keagamaan Padang seperti hari-hari sebelumnya menjalankan rutinitas kegiatan berupa pendidikan dan pelatihan bagi pegawai di wilayah kerja Balai Diklat Keagamaan Padang; Sumatera Barat, Riau, Jambi dan Kepulauan Riau. Pada tanggal 30 September 2009 sedang berlangsung dua Diklat, yakni  Diklat Humas dan Keprotokolan dan Bimbingan Konseling untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah dengan jumlah peserta masing-masing diklat 30 orang.

Disamping dua diklat, pada saat itu juga sedang berlangsung penerimaan peserta diklat sebanyak 3 angkatan, masing-masing GMP. Kimia MA, GMP. Aqidah Akhlak MTs dan Diklat Kaur TU MA dengan jumlah peserta ditargetkan 90 orang untuk ketiga diklat. Dengan demikian saat itu di Balai Diklat Keagamaan Padang terdapat sekitar 150 orang peserta diklat yang berasal dari empat propinsi disamping pegawaian Balai Diklat Keagamaan Padang.

Lebih dari 150 orang yang berkumpul di Balai Diklat Keagamaan Padang berhamburan ke luar ruangan di saat gempa 7.9 skala ricter mengguncang Sumatera Barat, keceriaan berubah menjadi ketakutan, canda ria berubah menjadi pekikan dan tangisan, pembicaraan satu dengan yang lain berubah menjadi ucapan zikir, tahmid, tahlil, takbir. Lidah-lidah pada saat itu menyebut asma Allah, hamba pada saat itu benar-benar tidak berdaya dan berserah diri hanya kepada Allah, benar-benar pilu dan menegangkan. Seiring dengan gempa besar tersebut jaringan informasi terputus, listrik padam, air PDAM berhenti mengalir. Belum lepas dari rasa takut dan cemas, masyarakat juga dihantui dengan datangnya tsunami, masyarakat panik dan berlarian ke daerah yang lebih tinggi, kemacetan tidak terhindarkan di mana-mana.

Menurut pantauan penulis kalaulah di saat itu terjadi tsunami di kota Padang, maka jumlah korban jauh lebih besar dari perkiraan karena penumpukan kendaraan di jalan raya dengan penumpang yang penuh sesak tidak dapat bergerak karena macet total. Jalur evakuasi tsunami yang dirancang pemerintah tidak banyak membantu, dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya jalur evakuasi di saat terjadinya tsunami. Berdasarkan arahan dari pihak terkait jalur evakuasi dimanfaatkan oleh masyarakat dengan berlari sejauh mungkin, bukan dengan menggunakan kendaraan.

Di lingkungan Balai Diklat Keagamaan Padang saat itu benar-benar mencekam, beberapa orang pegawai yang masih bertahan berupaya menenangkan peserta diklat dengan berkumpul di tempat terbuka Balai Diklat Keagamaan Padang. Malampun datang seiring dengan berjalannya waktu, di suasana gelap semuanya berkumpul tanpa penerangan yang memadai, hujanpun turun membasahai bumi, tidak banyak informasi yang diterima, karena informasi terputus dengan dunia luar. Informasi bahwa banyak gedung hancur dan memakan banyak korban hanya di ketahui dari mulut ke mulut dan radio.Masyarakat di luar Sumatera Barat telah menyaksikan bagaimana memilukan tragedi gempa Sumatera Barat beberapa menit setelah gempa melalui media televise, sementara warga Sumatera Barat  khususnya, benar-bernar terisolasi dengan informasi melalui televisi.

Malam yang bersamaan dengan turunnya hujan dilalui dengan suasana memprihatinkan, tidak banyak yang memejamkan mata hingga pagi hari karena khawatir akan datangnya gempa susulan. Pagipun datang kebijakanpun diambil oleh pimpinan BDK Padang dengan memulangkan seluruh peserta ke daerah masing-masing, diklatpun dihentikan, “manusia boleh berencana, namun keputusannya di tangan Ilahi Rabbi”. Sangat tidak kondusif bila diklat tetap dilanjutkan disamping banyak gedung yang retak-retak, trauma peserta terhadap gempa merupakan satu hal yang sangat sulit dilupakan dalam waktu yang singkat. Bagaimana dengan diklat-diklat yang akan datang apakah peserta dapat melupakan tragedi ini ? dan dapat beraktifitas normal seperti sebelumnya?. Wallahu A’lam. Kita hanya berharap semoga trauma ini tidak berlarut-larut, seriring dengan berjalannya waktu kita kembali hidup bersemangat dan normal dalam menjalani kehidupan. Alhamdulillah meskipun rata-rata gedung pada BDK Padang berlantai dua serdang dikunjungi oleh banyak peserta diklat, tidak satupun gedung yang roboh dan korban jiwa.

Dengan melihat tragedi ini, bagi penulis sendiri dan informasi dari kawan-kawan dan para senior, gempa 30 September 2009 jam 17.16 Wib merupakan guncangan gempa yang terbesar yang dirasakan, sehingga tidak mengherankan kalau timbul spekulasi bahwa gempa tersebut jauh lebih besar dari informasi yang disampaikan di media massa, bahkan ada yang memperkirakan di atas 8 skala ricter. Terlepas dari spekulasi tersebut setidaknya kita masih bisa mengambil hikmah dari peristiwa tersebut, diantaranya:

  1. Tragedi tersebut semakin menyadarkan kita bahwa pada hakekatnya kita tidak memiliki otoritas terhadap yang kita miliki, termasuk diri kita sendiri. Segala yang kita miliki (harta, anak-anak, jabatan dan kekuasaan), diri kita sendiri sekalipun merupakan milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Seorang Bapak dan ibu tidak dapat berbuat apa-apa di saat Allah mengambil kembali titipannya berupa anak, seseorang tidak dapat memepertahankan harta miliknya di saat Allah merampasnya kembali, seseorang tidak dapat mempertahankan kekuasaan dan jabatannya di saat Allah mencabutnya kembali, bahkan seseorang  tidak dapat mempertahankan dirinya sendiri di saat Allah memanggilnya kembali melalui kematian. “ ….. sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali kepada Allah” (QS. Al-Baqarah 2: 176)
  2. Segala bencana merupakan sebuah ujian keimanan bagi hamba yang beriman (QS. Al-’Ankabut 29: 2), sejauh mana yang bersangkutan dapat menyikapi bencana tersebut sebagai sebuah ujian keimanan dan mengambil hikmah dari segala sesuatu yang terjadi. Bencana juga mengandung makna azab bagi hamba yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah. Secara umum setiap Allah berbicara tentang bencana di dalam al-Qur’a yang ditimpakan terhadap umat-umat  terdahulu, maka ayat tersebut selalu diawali dengan sebab telah ingkarnya umat tersebut terhadap Allah. Disamping itu bencana juga mengandung makna peringatan bagi hamba yang telah lalai terhadap Allah agar kembali mengingat dan menyembah Allah sebagi pencipta dan pengatur semesta alam.
  3. Kematian itu pasti, tidak satupun manusia mengetahui di bumi mana dan kondisi bagaimana dia meninggal (QS. Lukmat  31: 34). Disamping itu manusia tidak dapat berlari dari kematian bila ajal telah datang (QS. Al-Jum’at 62: 8). Harta, ilmu dan kekauasaan tidak dapat menolak seseorang dari kematian. Kalaulah harta dapat menolak kematian, maka hanya orang-orang miskin saja yang akan meninggal, kalaulah kekuaasan dapat menolak kematian, maka kematian hanya akan menimpa rakyat biasa. Kematian tidak memandang segalanya, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati. (QS. Ali Imran 3: 185), tidak dapat ditunda meskipun sesaat (QS. Al- Nahl 16: 61), ajal akan datang meskipun kita bersembunyi dibenteng yang tinggi dan kokoh (QS. Al-Nisak 4: 78)
  4. Berusaha menghindar dari bencana merupakan sebuah ikhtiar dan dianjurkan dalam agama, namun perlu dipahami bahwa ikhtiar bukan merupakan jaminan untuk terlepas dari bencana Allah dan kematian. Tiada lain yang dapat kita lakukan selain ikhtiar yang diiringi dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Kita kembali memposisikan diri sebagai hamba Allah di muka bumi dengan misi ber’ubudiyah kepada Allah SWT (QS. Al-Zariat 51: 56), kita jadikan aktifitas positif kita bernilai ibadah, awali segala pekerjaan baik dengan asma Allah dan diakhiri dengan memuji Allah, sebuah sikap penyerahan diri hanya kepada Allah SWT.
  5. Kita tidak mengetahui kapan kematian akan menghampiri kita, agar kita kembali kepada Allah sebagai hamba yang baik, maka sudah saatnya kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Kita ingin ditemui oleh kematian di saat hubungan kita baik dengan Allah, disaat hubungan kita baik dengan sesama manusia. Perbaiki hubungan kita dengan Allah dengan selalu mengerjakan perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Perbaiki hubungan kita dengan sesama manusia dengan selalu menjaga hubungan silaturrahim, hindarkan diri dari perbuatan yang menyakiti orang lain, memfitnah, adu domba, bergunjing, sombong (merasa diri lebih baik dan pintar dari orang lain), dengki (tidak senang melihat orang lain beruntung dan sukses), membuka aib orang lain, merampas hak orang lain, berpesta di atas penderitaan orang lain, senang melihat orang susah dan senang melihat orang susah. Sudah saatnya kita menjaga hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia (QS. Ali Imran  3: 112)
  6. Gempa yang terjadi 30 September 2009 yang lalu merupakan peristiwa yang dahsyat, namun belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan peristiwa waktu yang ditentukan (kiamat), dimana saat itu bumi digoncangkan luar biasa, air laut tumpah, isi perut bumi berhamburan, gunung-gunung hancur, manusia saat itu seperti anai-anai berterbangan. Itulah kiamat, dimana masing-masing diri akan meepertanggungjawabkan segala perbuatannya di muka bumi kepada Allah, hamba yang menanam kebaikan akan memperoleh kebaikan, hamba yang menamam kejahatan akan menunai kejahatan. (QS. Al-Zalzalah dan Al-Qari’ah).
  7. Peristiwa ini telah membuka mata hati kita yang tulus bahwa kita adalah bersaudara, peristiwa yang menimpa masyarakat Sumatera Barat juga dirasakan oleh masyarakat di luar Sumatera Barat, bahkan dari berbagai penjuru dunia. Segala macam bentuk bantuan mengalir dari berbagai sumber ke Sumatera Barat. Hal ini sebagai bentuk keprihatinan dan ikut mersakan kepedihan yang dirasakan oleh masyarakar Sumatera Barat. Persaudaraan perlu ditumbuhkan, karena persaudaraan akan melahirkan kekuatan yang luar biasa. Sebuah lidi akan kehilangan kekuatan apabila bekerja secara sendiri dan mampu menyingkirkan banyak  sampah apabila dilakukan secara bersama-sama (QS. Al-Hujurat 49: 10).
  8. Allah tidak akan menimpakan sesuatu kepada seorang hamba kecuali sebatas kemampuannnya (QS. Al-Baqarah 2: 286). Rasa takut, cemas, khawatir dan lain sebagainya merupakan sikap yang manusiawi, hanya saja kita tidak boleh larut dari rasa takut dan khawatir. Goncangan gempa yang telah menimbulkan banyak korban nyawa dan harta merupakan bencana, akan tetapi ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan setelah terjadinya bencana merupakan bencana yang tidah kalah besar, karena dapat mempengaruhi aktifitas kerja dan kejiwaan, bahkan tidak sedikit yang stress setelah terjadinya bencana. Musibah dalam bentuk takut, khawatir dan cemas merupakan bentuk ujian terberat yang diberikan kepada seseorang diaatara sekian banyak bentuk ujian, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: : dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut (khawatir), kelaparan, kekurangan harta, jiwa (kematian) dan buah-buah,….. (QS. Al-Baqarah, 2: 155)

Tentu banyak hikmah-hikmah lain yang dapat digali dari peristiwa ini, baik bagi kita di Sumatera Barat, maupun masyarakat yang berada di luar Sumatera Barat. Hidup bukan hanya hari ini dan hidup akan terus berlanjut, bumi akan selalu berputar dan matahari akan senantiasa bersinar, waktu akan terus berjalan, maka janganlah kta larut dengan kondisi ini, mari kita tatap masa depan dengan lebih baik, kita rajut kembali benang-benang kehidupan yang telah terurai. Bagi saudara-saudara kita yang telah mendahului kita, tida lain yang dapat kita lakukan selain bermohon kepada Allah semoga mereka ditempatkan pada tempat yang baik, keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran, kiranya segala kehilangan yang terjadi pada musibah ini diganti dengan yang lebih baik. Selalu kita jalin hubungan dengan Allah dalam bentuk ibadah dan menjalin hubungan dengan sesama manusia dalam bentuk bermu’amalah yang dituntun oleh al-Qur’an dan sunnah Rasul, Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.

Ditulis oleh: Zulman, pegawai Sub Bagian Tata Usaha Balai Diklat Keagamaan Padang. Tulisan ini telah diterbitkan dalam majalah Koordinat Balai Diklat Keagamaan Padang, Vol. II nomor 4 bulan Oktober – Desember 2009

Satu Tanggapan

  1. Asslm. wr. wb,
    Sy mewakili peserta Prajab gol 3 angk 2. mengucapkan terima kasih yg sebesar2nya. Kami sangat senang dgn metode yg Bpk gunakan. Smga Allah senantiasa memberikan taufik dan hidayah kpd kta smua. HALO…. hai… wassalam;-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: