Kunci Surga yang Terbuang

ayat_suci3Menurut Fazlur Rahman, diantara major themes of al-Quran atau istilah Jalaluddin Rahmad bahwa salah satu misi terpenting Islam ialah membela, menyelamatkan, membebaskan, melindungi, dan memuliakan kelompok dhu’afa atau mustadh’afin (yang lemah atau yang dilemahkan, yang menderita atau yang dibikin menderita). Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa Allah hanya menerima shalat dari orang-orang yang menyayangi orang-orang miskin, ibnu sabil, wanita yang ditinggalkan suaminya, dan yang menyayangi orang yang mendapat musibah (Sayyid Sabiq, Islamuna, h, 119). Begitu juga ketika Nabi Musa as. bertanya kepada Allah SWT, “Tuhanku, di mana aku harus mencari-Mu?” Allah Azza wa Jalla menjawab, “Carilah Aku di tengah-tengah mereka yang hancur hatinya” (al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Mesir; Mathbaah Utamaniyah, tanpa tahun).

Di antara kelompok dhu’afa inilah posisi anak yatim selalu kita dijumpai. Bila al-Quran misalnya menyebutkan daftar kaum dhu’afa, sering anak yatim menduduki urutan pertama, walaupun dalam kenyataan kehidupannya mereka masih di nomor akhirkan.

Tulisan ini mencoba memaparkan tentang bagaimana Islam (al-Quran dan Hadits) memandang atau membicarakan tentang anak yatim tersebut:

1. Anak Yatim menurut al-Quran
Secara global dalam al-Quran ungkapan yatim atau yatama dan derivat lainnya dari kata itu disebut 23 kali. Diantaranya dapat dikelompokan sebagai berikut:
1. Berbuat baik terhadap anak yatim merupakan salah satu tanda orang yang benar imannya, yang bertaqwa, dan orang-orang yang baik. Hal ini dapat dipahami dari surat al-Baqarah ayat 177. Begitu juga dalam surat al Insan ayat 8
2. Menyantuni anak yatim adalah kewajiban sosial setiap orang Islam, segera setelah ia mengetahui jalan yang baik dan jalan yang jelek dalam kehidupan. Membela anak yatim juga merupakan salah satu perjuangan Islam, inilah ”menaiki bukit perjuangan” yang jarang dilakukan orang.
3. Problem sosial dapat muncul disebabkan oleh empat sebab, yakni tidak memuliakan anak yatim, tidak memberi makan orang miskin, memakan warisan (kekayaan) alam dengan rakus dan mencintai harta benda secara berlebihan, sebagaimana dalamsurat al-Fajr ayat 15-20.
4. Al-Quran juga menceritakan bahwa salah satu ajaran yang disampaikan oleh Kahidir kepada Nabi Musa adalah perhatian terhadap kepentingan anak yatim. Sebagaimana yang dijelaskan al-Quran Surat al-Kahfi ayat 82
5. Masalah anak yatim telah dipilih oleh Allah sebagai sebab turunnya ayat al-Quran tentang poligami sebagaimana dalam surat an-Nisa ayat 3.
6. Bahkan al-Quran juga menginstruksikan bila orang membagi harta warisan supaya sebagian diberikan kepada kerabat, anak yatim, dan orang miskin yang tidak mempunyai hak waris sebagaimana dalam surat an-Nisa ayat 8
7. Orang Islam disuruh berhati-hati dalam memelihara harta anak yatim, dengan tidak mencampurkannya dengan harta mereka (QS.4;2,10, dan QS.17;34). Ketika para sahabat salah mengerti dan memisahkan makanan anak yatim dari makanan mereka sendiri, Allah mengingatkan bahwa bukan itu maksudnya. Allah menyuruh mereka mencari cara yang paling baik dalam mengurus harta anak yatim. Karena memakan harta anak yatim termasuk dosa besar sebagaimana dalam surat an-Nisa ayat 2.
8. Islam juga melarang umatnya memperlakukan anak yatim secara sewenang-wenang sebagaimana dalam surat adh-Dhuha ayat 9.

Menurut Ibnu Katsir, fala taqhar pada ayat di atas termasuk juga, merendahkan, membentak, dan menghinakan (lihat tafsir Ibn Katsir jilid 4 hal. 523). Kemudian pada suarat al-Ma’un ayat 2 (QS. 107;2) Allah juga melarang menghardik anak yatim, karena orang yang menghardik anak yatim tergolong kepada para pendusta agama.

2. Anak Yatim Menurut Sunnah
Adapun anak yatim menurut sunnah diantaranya:
1. Menyentuh dan mengusap anak yatim dipandang sebagai ibadah, suatu amal yang dapat melembutkan kekerasan hati. ”Barang siapa meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menuliskan kebaiakn pada setiap lembar rambut yang disentuhnya (HR. Ahmad, ath-Thabrani, Ibn Hibban, Ibn Abi Aufa)” ” Sesungguhnya seorang laki-laki mengeluh kepada Nabi SAW, karena hatinya yang keras. Nabi SAW berkata: Usaplah kepala yatim, dan berilah makan oang miskin. (HR. Ahmad)”.
2. Orang yang memelihara anak yatim dijamain masuk surga. ”Aku dan pemelihara anak yatim disurga seperti ini (beliau memberi isyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya, lalu membukanya (HR. Bukhari, Turmudzi, dan Abu Daud)”. ” Barang siapa yang mengambil anak yatim dari kalangan muslimin dan memberinya makan dan minum, Allah akan memasukkannya ke surga, kecuali bila ia berbuat dosa besar yang tidak terampuni (HR. Turmudzi)”.
3. Rumah yang paling baik ialah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang dimuliakan. ”Sebaik-baik rumah kaum Muslimin ialah rumah yang didalamnya ada anak yatim diperlakukan dengan sebaik-baiknya, dan sejelek-jelek rumah orang Islam aialah rumah yang di dalamnya ada anak yatim diperlakukan dengan jelek (HR. Ibnu Mubarak)”.
4. Dianjurkan agar pemeliharaan anak yatim dipegang oleh orang yang kuat secara intelektual, finansial, dan mental. Orang yang lemah hendaknya tidak dipercayai untuk mengurus harta anak yatim. ”Ya Abu Dzar, aku melihat engkau lemah. Aku menyenangi untuk engkau apa yang kusenangi untuk diriku. Janganlah engkau menjadi amir walau hanya untuk dua orang, dan janganlah menjadi wali bagi anak yatim (HR. Muslim)”.

Syek Muhammad Abduh (Tokoh Pembaharu Islam dari Mesir) pernah mengingatkan kita, bahwa ”Cukuplah bagimu untuk diketahui bahwa al-Quran melarang menghardik anak yatim, dan mengancam dengan acaman yang berat kepada orang yang memakan harta anak yatim. Andaikata yang menjadi sebab itu adalah kemiskinan, tentu cukuplah disebut dalam kelampok miskin saja, tidak yatimnya, karena rahasia utamanya ialah anak yatim itu memerlukan rasa kasih sayang fitriah, untuk membantu, mendidik, dan memelihara hak-haknya.
………..Wasiat tentang anak yatim ini menegaskan bahwa masyarakat Islam harus mengurus anak yatim seperti mengurus anak mereka sendiri, mendidiknya dalam hal-hal din dan duniawi, supaya mereka tidak rusak dan merusak orang lain. Qatadah menyimpulkannya dengan kalimat yang pendek ”Jadilah kita orangtua penyayang anak-anak yatim”.
”MENYANTUNI ANAK YATIM BERARTI MENGANTONGI KUNCI SURGA YANG TERCECER”

Ditulis oleh Bakhtiar Shaleh, Pegawai Seksi Urais Kandepag Kab. Kuantan Singingi Prov. Riau

4 Tanggapan

  1. mas, artikel anda cukup menarik dari sisi isi..kalaupun copas..its oke
    cuman saran saya, cara penulisan anda kurang sense..
    mestinya diberi paragraf hingga tidak padat monoton gitu..

    salam kenal aja..

  2. realease your tension http://www.geocities.com\lookingfor60

  3. Nice post!

    Kunci surga itu ada di antara jari telunjuk dan jari tengah. Dapatkan bonus bidadari surga di sini
    http://bangaziem.wordpress.com/2010/04/20/inilah-bidadari-surga-yang-anda-rindukan/

    Salam silaturrahim,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: