Hisab Wujud al-Hilal

Ag00598_Hampir setiap tahun umat Islam terutama pengurus mesjid/mushalla dan panitia hari raya sering mengalami kebingungan kapan akan berhari raya termasuk tahun ini. Pasalnya, bukan karena hari rayanya yang berbeda, tetapi kapan jatuhnya tanggal yang ditunggu itu. Apakah akan berhari raya besok atau lusa. Tentu keadaan yang demikian di zaman modern dan ilmu pengetahuan ini tidak lagi dapat dipertahankan. Rasionalitas dan kecerdasan berpikir serta kekritisan umat sudah semakin dewasa, waktu sangat berharga sehingga detik perdetik sudah harus diperhitungkan sepertinya jadwal shalat yang sudah dihitung oleh para ahli hisab.

Dalam konteks itulah kiranya sangat relevan memahami ayat-ayat tanziliyah dan kauniyah tentang peredaran matahari, bulan dan bumi. Itu semua tentu terkait dengan penentuan awal qamariah termasuk didalamnya awal puasa dan hari raya. Metode wujudul hilal adalah salah satu upaya solusi mengeluarkan umat dari kebingungan tersebut. Dalam kriteria ini awal bulan qamariah (termasuk Ramadhan dan Syawal) dimulai sejak saat terbenam Matahari setelah terjadi ijtima’ hilal pada saat itu belum terbenam masih berada di atas ufuk (horizon).

Dengan demikian, secara umum, kriteria yang dijadikan dasar untuk menetapkan awal bulan qamariah adalah dimulai sejak saat terbenam Matahari setelah terjadi ijtima’ dan pada saat terbenam Matahari tersebut bulan belum terbenam atau masih berada di atas ufuk berapapun besarnya.

Dalam hal menetapkan awal bulan sejak terbenam Matahari, metoda ini sama persis dengan ijtima’ qabla ghurub, yaitu hilal sudah ada pada saat terjadinya ijtima’. Sementara itu pergantian hari terjadi pada saat terbenam Matahari. Oleh karena itu sistem ini mengaitkan saat ijtima’ dengan saat terbenam Matahari. Kriterianya adalah ”jika ijtima” terjadi sebelum terbenam matahari maka malam hari itu sudah dianggap bulan baru, sedangkan jika ijtima’ terjadi setelah terbenam matahari maka malam itu dan keesokan harinya ditetapkan sebagai hari terkahir dari bulan yang sedang berlangsung. Akan tetapi terdapat perbedaan yang cukup menyolok dalam menetapkan kedudukan bulan terhadap ufuk. Dalam ijtima’ qabla ghurub sama sekali tidak memperhatikan kedudukan bulan (hilal) pada ufuk pada saat terbenam Matahari sedangkan wujudul hilal mensyaratkan kedudukan bulan masih belum terbenam atau masih di atas ufuk pada saat Matahari terbenam.

Tegasnya, walaupun ijtima’ terjadi sebelum terbenam Matahari, pada saat Matahari terbenam tersebut belum dapat ditentukan sebagai awal bulan qamariah sebelum diketahui posisi bulan terhadap ufuk pada saat terbenam Matahari itu. Apabila pada saat terbenam matahari itu bulan belum terbenam atau masih berada di atas ufuk maka sejak saat itu mulai masuk bulan baru qamariah sebaliknya apabila pada saat itu bulan sudah terbenam atau sudah dibawah ufuk, maka pada saat itu masih dianggap sebagai hari terakhir dari bulan qamariah yang sedang berlangsung.

Dalil dan interpretasinya yang digunakan dalam sistem ini berdasarkan pada pemahaman pada ayat-ayat yang berkaitan dengan peredaran matahari, bulan dan bumi termasuk hadits yang ada kaitannya dengan itu. Dalam hal menetapkan adanya hilal mempersyaratkan adanya pada saat terbenam Matahari, artinya pada saat terbenam Mahatari bulan harus belum terbenam. Persyaratan ini ditetapkan karena diruang angkasa tidak ada timur dan barat. Timur, barat, utara dan selatan hanya ada di bumi. Kalau dikatakan, bahwa bulan dan Matahari bergerak menurut arah dari barat ketimur, adalah semata-mata berdasarkan ketentuan dalam astronomi yang menyatakan bahwa gerak arah dari barat ke timur adalah gerak, yang kalau dilihat dari kutub utara, berlaku menurut arah yang bertentangan dengan arah putaran jarum jam. Jadi kalau demikian, garis manakah yang dapat dijadikan patokan untuk menentukan bulan baru qamariah?

Dalam ilmu falak kedudukan bulan terhadap Matahari adakalanya ditentukan dengan menggunakan lingkaran-lingkaran bujur langit yang tegak lurus pada ekliptika sebagai garis patokan, akan tetapi garis itu bukan satu-satunya, karena ada lagi garis lain, yaitu lingkaran-lingkaran waktu yang tegak lurus pada lingkaran ekuator langit. Atau bahkan lingkaran-lingkaran bujur bulan yang tegak lurus pada lingkaran falak bulan. Semua lingkaran yang disebutkan ini adalah lingkaran-lingkaran khayal yang tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi sengaja diciptakan oleh ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tertentu.

Persoalan tersebut diselesaikan dengan memperhatikan al-Qur’an surat Yasin ayat 40 kelanjutan dari ayat yang sebelumnya (39)”Dan malam tiada dapat mendahului siang.” Ayat ini menggambarkan situasi senja hari, ketika malam mengambil alih kekuasaan dari siang. Pengambil alihan itu berlaku dengan teratur dan tertib, tanpa ada semangat saling dahulu mendahului, atau semangat berebutan. Masuknya senja yang ditandai dengan terbenamnya Matahari berlaku dengan amat beraturan dan terbenamnya Matahari dapat ditentukan dengan ketelitian sampai kepada detik waktu eksak. Disamping itu juga dapat diuji dengan observasi.

Perpindahan siang kepada malam secara mutlak ditentukan oleh terbenamnya Matahari. Sedangkan terbenamnya Matahari adalah terhadap ufuk. Dengan demikian, dalam ayat tersebut diatas pada hakekatnya telah dikemukakan suatu unsur baru, yaitu garis ufuk. Dengan kata lain dalam menentukan apakah bulan sudah disebelah timur atau masih disebelah barat Matahari, garis ufuklah yang dijadikan pedoman.

Menetapkan garis ufuk sebagai petunjuk timur dan barat mempunyai segi-segi yang cukup menarik. Pertama, garis ufuk adalah garis yang nyata, dengan kedudukan dan sifat-sifat yang jelas, sehingga tidak ada keragu-raguan dalam mendefinisikannya. Kedua, ufuk merupakan persoalan bumi, sedangkan perjalanan Bulan dan Matahari adalah persoalan ruang angkasa, persoalan langit. Ketiga, ufuk bukan hanya persoalan dunia, tetapi juga terikat kepada suatu tempat tertentu dipermukaan bumi. Ufuk dalam astronomi dikenal juga dengan local horizon, yaitu ufuk setempat.

Penetapan bulan baru qamariah menurut ketentuan agama rupanya diikatkan dengan situasi setempat. Sebagaimana halnya penetapan waktu-waktu ibadah lainnya seperti shalat. Caranya adalah dengan menetapkan ufuk setempat sebagai patokan dalam menentukan apakah bulan sudah disebelah timur Matahari atau belum.

Di samping itu, mengingat hadits-hadits Nabi saw yang menunjukan bahwa pembuktian ada atau tidak adanya hilal itu dibuktikan dengan cara melihatnya pada saat terbenam Matahari. Ini menjadi penting pada sistem hisab wujudul hilal karena tidak setiap ijtima’ terjadi sebelum terbenam Matahari secara otomatis bulan terbenam lebih kemudian daripada Matahari, akan tetapi bisa saja bulan itu sudah lebih dahulu terbenam daripada Matahari.

Cara menentukannya adalah dengan menempatkan Matahari pada posisi terbenam, lalu ditentukan posisi bulan. Bila bulan berkedudukan diatas ufuk itu berarti menunjukan bahwa bulan sudah berada disebelah timur Mahatari. Situasi demikian menunjukan bahwa bulan baru qamariah sudah mulai atau dengan kata lain ”hilal sudah wujud”. Interpretasi demikian mengukuhkan pendapat bahwa wujudul hilal sebagai kriteria masuknya bulan baru qamariah.

Oleh Bakhtiar

(Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat)

Satu Tanggapan

  1. falak atau ailm astronomi hanya boleh “approximate” sahaja kejadian alam semesta.

    itu pun oleh Hisab yang di guna ttelah di permudahkan eg.

    smooth surface bagi matahari bulan dan bumi

    putaran yang elliptic bagi setiap planet

    kesimpulannya , “imkan al ru’ya” tidak harus di guna untuk menentukan “nampaknya” hilal

    eg. kriterianya terlalu amat rendah [dan tidak masuk akal]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: