1 Syawal

Penetapan  1 Syawal dan Pemahaman Hadis

Versi Muhammadiyah

(Tanggapan Terhadap Tulisan H.Chairuddin (Ketua MUI Kab. Padang Pariaman)

Oleh : Edi Safri

(Ketua Majlis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat)

 

Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.

 Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (QS. Yasin: 39-40)

 

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui (QS. Yunus 5)

 

     Pada hari Sabtu, 22 Sept. 2007, harian “Padang Ekspres” koran yang kita cintai ini memuat tulisan H.Chairuddin Ketua MUI Kab. Padang Pariaman pada rubrik Teras Ramadhan dengan judul “Penetapan 1 Syawal 1428 H”. Tulisan beliau cukup baik untuk memberi informasi kepada masyarakat tentang metode penetapan awal bulan Qamariyah seperti penetapan 1 Syawal 1428 H yang akan datang.

     Dari tiga metode penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal yang ada yakni: Metode ru’yah, metode hisab atau disebut juga dengan metode wujudul hilal dan metode imkanurru’yah, beliau menyatakan cenderung memilih metode ketiga (imkanurru’yah). Hal itu adalah hak beliau dan orang-orang yang sepaham dengan beliau yang tentunya harus kita hormati bersama. Sementara Muhammadiyah menggunakan metode kedua, yakni metode hisab atau metode  wujudul hilal”. Tentunya orang-orang yang tidak menggunakan metode ini seharusnya pula menghormati hak orang lain yang menggunakannya.  Dalam kaitan ini kami merasa perlu menanggapi pernyataan beliau yang mengatakan bahwa “menggunakan metode kedua (wujudul hilal)  berarti tidak lagi mempedomani hadits Nabi:  Berpuasalah kamu dengan melihat bulan, dan berbukalah kamu (1 Syawal) dengan melihat bulan. Bila pandangan kamu terhambat (oleh awan) maka sempurnakanlah bulan Sya’ban 30 hari”.

     Melalui pernyataan tersebut beliau secara tidak langsung memposisikan Muhammadiyah dan pihak-pihak yang menggunakan metode wujudul hilal sebagai “tidak mempedomani hadis nabi”. Ini adalah suatu kekeliruan dan karena itu perlu diluruskan agar tidak menimbulkan image yang negatif di kalangan pembaca/ masyarakat.

      Muhammadiyah dalam pemahaman keagamaannya juga senantiasa memperhatikan hadis  atau sunnah Rasulullah dan bahkan selalu berupaya untuk mengamalkannya dengan konsekuen. Karena itulah Muhammadiyah sangat selektif dalam menilai hadis sebelum dijadikan dalil dan menghindari riwayat-riwayat yang tidak jelas asal usulnya atau yang tidak dapat dipertanggungjawabkan periwayatannya. Apalagi menyangkut urusan ibadah, Muhammadiyah selalu mendasarkan amal ibadahnya kepada sunnah yang shahih dengan periwayatan yang dapat dipertangungjawabkan. Muhammadiyah membersihkan diri dari beribadah secara tradisi atau ikut-ikutan yang tidak berdasarkan kepada sunnah. Demikian juga dengan hadis yang terkait dengan penetapan awal Syawal di atas, tetap diperhatikan dan dipedomani oleh Muhammadiyah.

     Perbedaan Muhammadiyah dengan H. Chairuddin menyangkut hadis di atas ialah dalam aspek pemahaman (fiqh al-hadits). Pemahaman H.Chairuddin terhadap hadis di atas tampaknya hanyalah pemahaman secara lahiriah/tekstual. Kata  ru’yah dalam teks hadis beliau pahami dengan arti “melihat dengan mata” (ru’yah bil’ain). Inilah yang beliau pentingkan sehingga konsekuensinya ialah apabila pada tanggal 29 Ramadhan hilal tidak terlihat oleh pandangan mata meskipun sebenarnya sudah ada (wujud) di atas ufuk maka esok harinya masih ditetapkan sebagai hari ke-30 Ramadhan, bukannya ditetapkan sebagai tanggal 1 Syawal (bulan baru). Pemahaman seperti ini dapat dikatakan pemahaman dalam arti sempit, karena kata ru’yah bentuk mashdar dari kata ra’a secara bahasa selain berarti “nazhara bil’ain” (melihat dengan mata) juga dengan arti “nazhara bil ‘aqli” (melihat dengan akal/ilmu). Lihat Kamus al-Munjid fi al-Lughah, hal.243..   

     Muhammadiyah tidak hanya memperhatikan makna lahiriah hadis saja akan tetapi lebih jauh lagi  mencari makna yang substansial dari maksud hadis tersebut, yakni. , agar kita dapat mengetahui dan meyakini apakah hilal telah wujud atau belum  pada tanggal 29  Sya’ban (untuk penetapan awal Ramadhan) dan tanggal 29 Ramadhan  (untuk penetapan idul fithri). Bila kamu mengetahui/meyakini telah ada (wujud) hilal maka berpuasalah dan bila telah wujud kembali pada akhir Ramadhan maka berbukalah kamu (berhari raya), dan apabila belum ada (dibawah ufuk) maka cukupkanlah Sya’ban 30 hari. Demikian juga pada tanggal 29 Ramadhan bila belum wujud hilal maka cukupkanlah ia menjadi 30 hari.   Ru’yah bil’ain hanyalah salah satu metode untuk dapat mengetahui dan meyakini ada atau tidak adanya hilal tersebut. Metode lainnya ialah melalui perhitungan ilmu hisab. Di zaman Rasulullah secara praktis memang dengan metode ru’yah bil’ain itulah baru yang dapat dilakukan karena  ilmu hisab belum berkembang  seperti sekarang.

     Sesuai dengan makna substansial hadis tersebut, maka istilah ru’yah (yang diartikan dengan melihat) dalam teks hadis selain dapat dipahami dengan ru’yah bil’ain , oleh para ulama juga dipahami dengan ru’yah bil ‘ilm  au bil ‘aqli, yakni melihat dengan menggunakan metode penelitian atau penalaran ilmiah. Metode tersebut sekarang telah terumus dengan baik dalam ilmu hisab/astronomi. Jadi penggunaan ilmu hisab untuk mengetahui dan meyakini telah wujud atau belumnya hilal adalah dalam rangka mengamalkan hadis ru’yatulhilal juga.

    Di samping itu, hadis tentang ru’yatulhilal itu sendiri tidak hanya satu versi saja, versi lain di ujungnya berbunyi “fain ghumma ‘alaikum faqdurulah” (dari ibn Umr, riwayat Imam Bukhari, Muslim dan Imam Malik). Artinya, jika (hilal) tidak terlihat oleh pandangan (mata) mu maka kamu perhitungkanlah. Sebagian ulama memahami “faqdurulah  ini dengan menggenapkan hitungan Ramadhan menjadi 30 hari. Yang lain memahami “kamu perhitungkanlah posisi hilal ketika itu” apakah sudah ada (di atas ufuk) atau belum.Memperhitungkan posisi hilal ketika itu adalah dengan menggunakan ilmu hisab. Jadi menggunakan ilmu hisab juga mengamalkan hadis Rasulullah, baik versi pertama maupun/apalagi versi kedua. Oleh karena itu di dalam Muhammadiyah fungsi dan kedudukan hisab sama dengan fungsi dan kedudukan ru’yah. Kedua-duanya dapat dipakai, saling mendukung dan saling melengkapi. Islam tidak anti dengan ilmu pengetahuan, bahkan sangat mendukung berkembangnya ilmu pengetahuan.

     Selain itu, eksistensi ilmu hisab, diakui sendiri oleh Alquran, yakni ayat 5 surat Yunus yakni sebagai ilmu untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Oleh karena itu tidak ada seorang pun ulama yang mencela pengunaan ilmu hisab ini. Dalam kaitan ini cukup membingungkan juga pernyataan  H.Chairuddin bahwa ayat 5 surat Yunus ini bersifat umum tidak bisa membatalkan hadis yang menyuruh kita menetapkan awal bulan dengan cara melihat (observasi).

     Dalam kaitan antara Alquran dan hadits ini perlu kehati-hatian dan ketelitian agar tidak salah menempatkannya. Ayat 5 surat Yunus seperti dikatakan di atas adalah dalil/bukti bahwa Alquran mengakui eksistensai ilmu hisab untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.  Di antaranya ialah waktu kapan akan berpuasa dan kapan beridul fitri (1 Syawal) yang ditandai dengan telah adanya hilal di penghujung Sya’ban dan di penghujung Ramadhan. Hal ini selain dapat diketahui melalui ilmu hisab (yang eksistnsinya diakui oleh ayat 5 surat Ynus di atas) juga dapat diketahui dengan cara melihat langsung dengan mata kepala apabila hilal dalam ketinggian yang memungkinkan dilihat. Jadi memang tidak ada persoalan batal membatalkan antara hadis dan ayat dalam hal ini.

     Hadits ru’yatul hilal  paling tepat diposisikan adalah sebagai penjelas (mubayyin ) bagi ayat 185 Al-Baqarah (faman syahida minkum al-syahra falyashumh). Kata syahida dalam ayat, yang dari akar kata  ini muncul kata syahadah sering diartikan dengan “menyaksikan”. Dalam hadis di bayan kan dengan  ru’yah (dengan melihat) di mana istilah ru’yah sendiri bisa dipahami dengan melihat langsung dengan mata kepala atau melihat dengan metode penalaran ilmiah (ilmu pengetahuan terkait), dalam hal ini adalah ilmu hisab.

    Menarik sekali untuk diperhatikan bahwa kata  syahida/syahadah seperti terdapat dalam ayat di atas, oleh mufassir sendiri (lihat misalnya Muhammad Ali As Sayis: Tafsir Ayat al-Ahkam) tidak hanya dipahami dengan menyaksikan/melihat dengan mata, tetapi juga dengan makna “syahida bi ‘aqlih wa bima’rifatih” (menyaksikan dengan menggunakan penalaran ilmiah/akal atau dengan pengetahuan yang dimilikinya). Al- Ashfahani dalam  al-Mufradat fiy Gharib al-Quran juga menjelaskan makna syahida dengan makna bi al-bashar (melihat dengan mata) dan dengan bi al-bashirah (melihat dengan penalaran ilmu) Jadi dari ayat sendiri sebenarnya telah diisyaratkan bahwa puasa wajib dimulai bila kita tahu dan yakin bahwa bulan (hilal) telah ada (di atas ufuk) sebagai pertanda telah datangnya bulan Ramadhan. Demikian pula untuk beridul fitri, yakni bila telah tahu dan yakin telah ada hilal di penghujung Ramadhan. Metode untuk mengetahuinya bisa dengan ru’yah bil’ain (melihat dengan mata kepala) atau melalui ru’yah bil ‘aql, binnazhar au bil ‘ilmi (melihat dengan menggunakan metode penelitian ilmiah, dalam hal ini adalah melalui ilmu hisab).

     Berkenaan dengan penetapan 1 Syawal tahun 1428 H sekarang, Muhammadiyah dengan menggunakan  metode hisab yang dilakukan dengan sangat teliti berkesimpulan dan yakin bahwa ketika matahari terbenam pada tanggal 29 Ramadhan/11 Oktober 2007 nanti  hilal sudah wujud di atas ufuk mar’i, hanya saja ketinggiannya tidak mencapai 1 derjat (yang tentunya tidak akan terlihat dengan pandangan mata). Oleh karena itulah besoknya (12 Oktober) ditetapkan sebagai tanggal 1 Syawal atau ‘Idul Fithri 1428 H.

    Selain penetapan awal bulan, penetapan waktu-waktu shalat pun dalam hadis Rasulullah (pada  awalnya) didasarkan kepada fenomena alam. Waktu Zhuhur mulai dari tergelincirnya matahari ke arah barat sampai bayang-bayang suatu benda sama panjangnya dengan benda itu sendiri. Waktu Ashar mulai bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri dan berakhir dengan terbenamnya matahari yang sekaligus sebagai pertanda masuknya waktu Maghrib. Waktu Maghrib berakhir dengan habisnya cahaya syafaq  merah di langit belahan barat, sekaligus menandakan pula masuknya waktu shalat ‘Isya.  Untuk mengetahui awal dan akhir waktu-waktu shalat tersebut sekarang kita tidak perlu bersusah payah mengamati fenomena alam tersebut karena ilmu hisab telah membantu kita menetapkan kapan datangnya awal-awal waktu shalat tersebut mulai dari jam, menit dan detiknya sebagaimana yang sama-sama kita pedomani dari jadwal waktu shalat setiap hari. Idealnya penetapan awal bulan melalui ilmu hisab juga diterima oleh semua umat Islam sebagaimana mereka menerima penetapan awal waktu shalat dengan perhitungan ilmu hisab.

Demikianlah penjelasan  ini, mudah-mudahan dapat dipahami dengan baik, Wallahu a’lam bishshawab..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: