Dilema Pendidik pada Lembaga Pendidikan Islam

Dalam dunia pendidikan, pendidik merupakan faktor penting dan utama, karena pendidik adalah orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, terutama di sekolah, untuk mencapai kedewasaan peserta didik sehingga ia menjadi manusia yang paripurna dan mengetahui tugas-tugasnya sebagai manusia yakni hamba Allah (‘abd) dan khalifah fi al-ardh.[1] Di sini dapat dipahami bahwa pendidik merupakan posisi sentral dalam dunia pendidikan, berarti dipundak pendidiklah perkembangan peserta didik dilanjutkan secara kontiniu, maka pendidik semestinya mengetahui makna pendidikan agar peserta didik dapat berkembang dengan sempurna untuk mendapat kebahagian hidup dunia dan akhirat. Beranjak dari ini, sepatutnya pendidik menyadari terhadap tugas yang diemban untuk mencerdaskan peserta didik, pada akhirnya tugas yang mulia tersebut apabila dilakukan dengan baik akan memperoleh kebahagiaan dalam diri seorang pendidik.

Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban: (a) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis, (b) mempunyai komitmen secara professional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan (c) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.[2] UU ini memberikan kepercayaan penuh kepada pendidik agar dapat menciptakan pendidikan yang mempunyai makna, menyenangkan, kreatif dan dinamis bagi peserta didik.

Dalam pandangan Islam, pendidik merupakan faktor penentu dalam proses penyelenggaraan pendidikan, karena hakekat pendidik dalam Islam adalah untuk mendidik, yakni mengupayakan seluruh potensi anak didik, baik potensi psikomotor, kognitif maupun potensi afektif.[3]

Di samping itu, tanggungjawab perkembangan peserta didik yang paling utama adalah peran orang tua dalam keluarga baik perkembangan jasmaninya maupun perkembangan rohaninya. Islam mengajarkan agar kedua orang tuanya menghindarkan kelurganya dari siksaan api neraka.[4]

Dalam pelaksanaan operasional mendidik, seorang pendidik melakukan rangkaian proses mengajar, memberikan dorongan, memuji, menghukum, memberi contoh, membiasakan. Batasan ini memberi arti bahwa tugas pendidik bukan hanya sekedar mengajar sebagaimana pendapat kebanyak orang, tetapi pendidik juga bertugas sebagai motivator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar, sehingga seluruh potensi peserta didik dapat teraktualisasi secara baik dan dinamis.[5]

Pelaksanaan hakekat pendidik membutuhkan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai pendidik. Pekerjaan demikian tidak dapat dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai seorang pendidik.[6] Memahami konsep ini, pendidik dalam Islam juga dituntut mempunyai profesi atau keahlian yang prodesional handal dalam semua komponen pendidikan. Komponen pendidikan yang dimaksud adalah mulai dari perangkat tujuan pendidikan sampaikan kepada pelaksanaan pendidikan dalam proses belajar mengajar.

Dalam kehidupan sehari-hari, pendidik menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Salah satu faktor yang menempati guru demikian adalah kewibawaan yang dimiliki oleh seorang pendidik. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak-anak mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia.[7] Walaupun dalam berbagai pandangan lain, seorang guru — dalam hal ini pendidik — melihat sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

Sementara itu Ramayulis, mengemukakan bahwa pendidik dalam Islam merupakan setiap orang dewasa yang karena kewajiban agamanya bertanggungjawab atas pendidikan dirinya dan orang lain.[8] Di sini maknanya, terkandung seorang pendidik melakukan pekerjaan profesionalnya terpanggil karena panggilan rohani keagamaanya.

Seorang pendidik dalam Islam melaksanakan tugasnya memandang ilmu mesti dilihat secara ilmiah, tanpa memandang pendikotomian ilmu, di mana terjadinya pemisahan ilmu agama dengan ilmu umum.[9] Secara fundamental, Islam tidak memiliki konsep adanya dikotomi ilmu akhirat (agama) dan ilmu dunia (umum).

Di samping itu pendidik sebagai pelaku pendidikan yang mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan anak bangsa –dalam hal ini peserta didik– dituntut mempunyai jiwa yang religius dalam setiap langkahnya melakukan tugas yang mulia tersebut. Salah satu upaya memiliki religiusitas, diharuskan mengetahui makna atau arti Islam yang sesungguhnya dan secara universal.

Seorang pendidik, mesti tertanam dalam dirinya bahwa belajar dilakukan sepanjang hayat. Belajar sepanjang hayat demikian, memberikan dorongan kepada pendidik, ilmu harus ditambah secara terus menerus, tanpa merasa puas dengan ilmu yang telah dimiliki. Semestinya seorang pendidik, merasa haus, dan selalu mencari di manapun tempat ilmu tersebut di dapatkan.

Salah satu ilmu yang mesti dimiliki pendidik adalah memahami segala seluk beluk ruang lingkup ajaran Islam. Secara umum, Islam sebagai agama dilihat secara universal, karena mencakup semua lini kehidupan manusia. Agar Islam itupun dapat dilihat secara khusus, terlebih dahulu mesti dilihat konsep ruang lingkup ajaran Islam. Secara sistemik ruang lingkup ajaran Islam terdiri atas: (1) aqidah, (2) ibadah, (3) akhlak, dan (4) mu’amalah duniyawiyat.[10] Keempat ajaran Islam ini dalam Muhammadiyah dapat ditemukan pada Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah[11]. Secara teoritik keempat ini dipelajari secara mendalam pada studi-studi keislaman dengan berbagai pendekatan dan cara pandang keilmuan yang ada dalam ajaran Islam.

Pada bagian lain, Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi keagamaan Islam di Indonesia mempunyai rasa tanggungjawab mencerdaskan anak bangsa melalui lembaga pendidikan. Konsep pendidikan  yang dilakukan oleh Muhammadiyah merupakan sistem pengajaran berpolakan sistem sekolah negeri. Sistem pendidikan dan pengajaran tersebut bukan dimaksudkan untuk menciptakan sendiri suatu sistem pendidikan Islam, melainkan untuk mengorganisasi sistem pendidikan swasta yang sejajar dengan sistem pendidikan nasional.[12] Sejak awal Muhammadiyah berdiri, pendidikan yang dikembangkan cenderung menyesuaikan dengan sistem pendidikan kolonial, sekalipun hanya dalam tata cara penyelenggaraan pendidikan bukan dalam materi atau isi dan tujuan pendidikannya.

Salah satu lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) yang tersebar di seluruh tanah air, Indonesia. Sekolah yang dimiliki Muhammadiyah merupakan salah satu bentuk amal usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan yang dilaksanakan secara otonomi, artinya penyelenggaraannya diserahkan kepada daerah masing-masing, di mana peran serta masyarakat sangat diutamakan. Salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) tersebut, berada di Kota Padang, yakni Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 2 Padang.

Bila di lihat secara jauh, kelihatan sekolah ini belum menampakan prestasi yang menggembirakan, karena pendidik belum memahami konsep pendidikan yang dikembangkan oleh Muhammadiyah atau sebagai seorang pendidik dalam lingkungan sekolah Muhammadiyah belum melaksanakan konsep Islam dalam proses belajar mengajar secara baik. Tetapi pada sisi lain peserta didik yang diasuh merupakan anak-anak yang kurang mampu dengan latar belakang sosial, strata kehidupan yang berbeda-beda, sehingga hal ini memiliki usaha dan kiat tersendiri bagi sekolah untuk melaksanakan program pendidikan yang berbasiskan kepada dasar-dasar dan ruang lingkup ajaran Islam.[13]

Untuk mengembangkan upaya pendidikan yang berbasis Islam, langkah yang dapat dilakukan adalah sejauh mana pendidik di sekolah tersebut memahami tentang ruang lingkup ajaran Islam. Apakah pendidik hanya melihat ajaran Islam sebagai mata pelajaran atau melihat ajaran Islam sebagai sebuah sistem yang dilakukan pada semua mata pelajaran. Bahkan lebih jauh apakah pendidik telah melaksanakan ajaran Islam di luar kegiatan pembelajaran.



[1] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h. 42

 

[2] Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,  (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), h. 21

[3] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h. 74, lihat Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 85, lihat juga Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: al-Ma’arif, 1989), h. 37

 

[4] Samsul Nizar, op.cit., h. 42

 

[5] Ibid., h. 43-44

 

[6] Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 5

[7] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaktif Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 31, lihat juga Samsul Nizar, op.cit., 43

 

[8] Ramayulis, op.cit., h. 86

 

[9]Abdurrahman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik. (Yogyakarta: Gama Media, 2002), h. 8

 

[10]Musthafa Kamal Pasha, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam, (Yogyakarta: LPPI, 2000), h. 217, lihat juga PP Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami warga Muhammadiyah, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2001), h. 13-15.

 

[11] Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah ini diputuskan oleh Tanwir Muhammadiyah tahun 1969 di Ponorogo, melaksanakan amanat Muktamar Muhammadiyah ke-37 tahun 1968 di Yogyakarta, dan kemudian diubah dan diperbaiki oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah berdasar amanat dan kuasa Tanwir Muhammadiyah tahun 1970, lihat Musthafa …, op.cit., h. 224. Sementara itu, MKCH ini dipertegas pelaksanakannya dalam Pedoman Hidup warga Muhammadiyah, sebagai keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta, lihat, PP Muhammadiyah, op.cit., h. iii

 

[12]Abudin Nata. et.al., Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2001), h. 263

[13] Mukhlisah, Kepala Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 2 Padang, Wawancara dilaksanakan tanggal 11 Maret 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: