Islam dan Ajaran Islam: Sebuah Komparatif

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa Islam adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. berpedoman pada kitab suci al-Qur’an yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah Swt. [1]

Al-Islâm secara etimologi berarti الانقياد  [2] (tunduk). Kata ini merupakan ثلاثى مزيد dari kata  السلم/ السلامة yang berarti التعرى من الافات الظاهرة والباطنة (terbebas dari wabah/cela baik secara lahir maupun secara batin).[3] Dalam al-Qur’an indikasi ini dapat dilihat dalam surat Ali Imrân/3: 83 yang berbunyi:

 

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

 

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan (Ali Imrân/3: 83).

Ayat sebelumnya mengisahkan tentang kontrak perjanjian Allah dengan para nabi sebelum Muhammad. Dalam kontrak perjanjian tersebut mereka (para nabi) berjanji akan mengimani dan membantu para nabi yang datang sesudahnya, di mana para nabi yang datang kemudian itu juga membawa risalah yang sama serta menguatkan risalah yang mereka bawa. Perjanjian ini dengan sendirinya juga mengikat terhadap umat para nabi terdahulu. Maka siapa saja dari umatnya yang mengingkari perjanjian tersebut, yaitu menolak kenabian Muhammad, berarti telah mengingkari perjanjian yang sebelumnya telah diikrarkan oleh para nabi. Konsekuensi logisnya adalah bahwa mereka dengan sendirinya telah menjadi fasiq terhadap ajaran yang dibawa para nabi sebelumnya lantaran mengingkari ajaran Muhammad.[4]

Kemudian pada ayat 83 ini ditegaskan dengan sebuah pertanyaan, masihkah mereka berpaling dari kebenaran yang sudah betul-betul nyata, masihkah mereka mencari agama lain selain Islam? Ketahuilah bahwa hakikat dînullah (agama Allah) yang sesungguhnya adalah menyerahkan diri serta ikhlas dalam penghambaan pada-Nya, baik secara individual maupun ketika hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat luas.

Selanjutnya pada ayat ini juga ditegaskan bahwa seluruh penghuni langit dan bumi tunduk serta patuh kepada Allah. Semuanya tunduk kepada sunnah yang telah ditetapkan. Di samping itu, mereka juga rela dan taat terhadap apa yang berlaku yang disebabkan oleh perjalanan dan perputaran taqdîr (hukum alam dan hukum kemasyarakatan). Kemudian Allah tegaskan bahwa seluruh apa yang ada di alam ini akan kembali pada-Nya. Ini merupakan peringatan bagi mereka, yaitu Ahlul Kitab yang mengingkari keberadaan Nabi Muhammad, di mana kelak Allah pasti memberikan balasan yang setimpal. Pada saat itu, seluruh umat akan mendapat ganjaran akibat pengkhianatan mereka terhadap dîn al-haq (agama yang benar).[5]

Ayat lain yang dapat dijadikan sampel di sini berkaitan penggunaan kata al-Islâm adalah al-Qur’an surat al-Nisâ’/4 : 125 yang berbunyi :

 

وَمَنْ أحسن دينا ممن اسلم وجهه للَّهَ وهو محسن واتبع ملة إبراهيم حنيفا واتخذ الله إبراهيم خليلا

 

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim sebagai kesayangan-Nya (QS al-Nisâ’/4 : 125).

Ayat-ayat sebelumnya mengisahkan bahwa kelak di hari kiamat mereka akan menerima balasan sesuai dengan perbuatan masing-masing. Pada saat itu tidak ada tempat untuk meminta bantuan dan pertolongan. Hanya dua yang bisa menyelamatkan seorang, yaitu amalannya selama di dunia dan Allah yang menciptakan. Lalu kembali dipertegas bahwa siapa saja yang berbuat amal kebajikan atas dasar keimanan, maka Allah menjanjikan surga baginya. Pada waktu itu mereka betul-betul menyaksikan keadilan yang sesungguhnya di mana pada saat itu betul-betul tidak ada kecurangan walau hanya sedikit. Sehingga semuanya menerima pas, sesuai dan seimbang dengan perbuatan masing-masing.

Lalu pada ayat 125 ini Allah kembali menegaskan, bahwa siapa yang mengikhlaskan dirinya kepada Allah, di mana ia betul-betul berserah pada-Nya, meninggalkan segala bentuk pengkhianatan pada-Nya, maka itulah prototype orang yang betul-betul beragama dan tunduk kepada Allah. Islam adalah agama yang mengharuskan pemeluknya tunduk, pasrah dan hanya berserah kepada Allah semata. Setelah itu Islam juga mengharuskan umatnya untuk senantiasa berbuat amal kebajikan, sebab itu adalah bentuk penyempurnaan dari komitmen seseorang untuk “ber-Islâm” (berserah diri kepada Allah). Kemudian Allah tegaskan lagi bahwa Islam itu adalah millah yang dulu pernah dibawa oleh Ibrahîm. Ungkapan ini adalah bantahan terhadap Yahudi dan Nasrani, yakni bahwa Ibrahîm adalah seorang muslim dan bukan berasal dari kalangan mereka, yahudi atau nashrani. Kemudian pada ayat ini juga diinformasikan bahwa Ibrahîm adalah seorang nabi pilihan di mana ia diberi gelar khalîlullah.[6]

Untuk lebih memperjelas makna al-Islâm dalam al-Qur’an, di sini akan dikemukakan al-Qur’an surat al-Hujurat/49 : 14 yang berbunyi ;

 

قَالَتِ الْأَعْرَابُ ءَامَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

 

Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS al-Hujurat/49 : 14).

Ayat-ayat sebelumnya membicarakan tentang ukhuwah di mana kaum beriman adalah bersaudara. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan bagaimana memelihara ukhuwah serta bagaimana menjauhi sakwasangka, lalu dilengkapi dengan keterangan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Semua itu dimaksudkan agar manusia dapat saling mengenal antara satu dengan yang lainnya. Lalu ayat ini dikunci dengan keterangan bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang senantiasa bertaqwa kepada-Nya sedang Dia Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Hal ini mengisyaratkan agar manusia dalam kehidupan sosialnya menjauhkan diri dari sikap rasialistis, primordialisme serta fanatisme kelompok, sebab kaum yang bertaqwa adalah kaum yang mampu mengontrol dirinya dari sikap-sikap negatif tersebut. Di samping itu, sikap-sikap negatif seperti itu juga dapat merusak ukhuwah. Selanjutnya pada ayat 14 ini Allah mengungkapkan titik pebedaan antara mukmin dengan muslim. Hal ini terkait dengan ayat sebelumnya yaitu tentang ukhuwah di mana yang mampu mempertahankan ukhuwah tersebut hanyalah kaum yang betul-betul beriman.

Ayat ini mengisahkan tentang sanggahan Allah terhadap orang-orang Badui yang mengaku beriman. Menurut ayat ini, sebetulnya mereka belum bisa dianggap dan dinilai sebagai mukmin, mereka baru bisa dikatakan sebagai muslim, sebab iman lebih khusus dari Islam. Seseorang yang muslim belum tentu mukmin, sebab ada beberapa hal yang mesti terkait untuk naik ke tingkat mukmin. Namun demikian perlu ditekankan bahwa muslim berbeda dengan munafik. Muslim sebagaimana dijelaskan dalam ayat ini adalah mereka yang berserah kepada Allah, hanya saja cahaya iman belum muncul dan mantap di hati mereka. Maka dari itu mereka diharapkan naik ke tingkat selanjutnya, yaitu iman dengan cara mentaati Allah dan rasul-Nya serta beramal shaleh. Sedangkan munafiq adalah orang-orang yag memperlihatkan keimanan secara lahir, namun yang terjadi di dalam hati dan keyakinan mereka adalah sebaliknya. Dengan demikian munafiq tidaklah sama dengan muslim, sebab munafiq lari dari makna hakiki al-Islâm itu sendiri.[7]  

Dengan demikian iman adalah التصديق مع الثقة وطمأنينة النفس (membenarkan dengan sepenuh hati sehingga jiwa menjadi tenang dan tentram). Sedang Islam adalah فى الدخول  السلم  (masuk ke dalam agama Islam). Selanjutnya Islam juga memberikan konsekuensi bahwa seseorang yang mengaku muslim haruslah menjauhkan diri dari memerangi orang Islam dalam berbagai bentuknya serta juga harus mengucapkan syahadat.[8] Dalam hal ini al-Zujâj berkata:

 

Islam adalah menampakkan ketundukkan serta menerima ajaran Nabi Muhammad SAW. Sehingga dengan demikian darahnya selamat (tidak diperangi). Namun jika ketika menampakkan dan memperlihatkan ketundukkan itu ia juga meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati, maka dengan sendirinya ia telah beriman serta berhak mendapat gelar mukmin”.[9]

Berdasarkan hal di atas, Islam adalah bersikap pasrah kepada Tuhan dan menerima risalah yang dibawa oleh para nabi.[10] Namun dalam keadaan tersebut seseorang belum dapat dikatakan mukmin kalau ia belum meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati.

Endang Saifuddin Anshari menjelaskan Islam[11] menurut bahasa (lughawi) mempunyai arti: bersih dan selamat dari kecacatan-kecacatan lahir dan batin, yang berasal dari kata-kata assalmu, assalamu dan assalamatu, dan juga Islam berasal dari kata assilmu dan assalmu yang berarti perdamaian dan keamanan, sedangkan pada bagian lain, Islam juga berasal dari kata assalamu (la, dibaca pendek), assalmu dan assilmu yang berarti menyerahkan diri, tunduk dan taat.[12]

Dalam al-Qur’an sering ditemukan kata-kata Islam dengan berbagai makna, diantaranya adalah pertama, sebagai lawan dari syirik, terdapat pada surat al-An’am (6) ayat 14, kedua, sebagai lawan dari kufur, terdapat dalam surat Ali Imran (3) ayat 80, ketiga, dengan arti ikhlas pada Allah, terdapat dalam surat An-Nisa (5) ayat 125, keempat, dalam arti tunduk dan patuh kepada Allah, terdapat dalam surat az-Zumar (39) ayat 54.[13]

Dari keterangan di atas, pada prinsipnya semua pakar dan ilmuan, melihat Islam pada pandangan yang sama, walaupun mengartikan dengan memakai pendekatan bahasa yang berbeda, tetapi mempunyai makna dan tujuan yang sama, yakni agama yang membawa keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan bagi umat yang menjalankan konsep Islam tersebut.

Secara terminologi al-islâm adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai rasul.[14] Padanan kata agama dalam bahasa Arab adalah al-dîn, namun kata al-dîn ini memiliki makna yang lebih khusus, sebab kata ini menggambarkan “hubungan antara dua pihak di mana yang pertama mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada yang kedua.” Seluruh kata yang menggunakan huruf-huruf dâl, yâ’ dan nûn seperti al-dain yang berarti utang atau dâna yadînu yang berarti menghukum atau taat dan sebagainya. Semua itu menggambarkan adanya dua pihak yang melakukan interaksi seperti yang digambarkan di atas. Dengan demikian agama adalah “hubungan antara makhluk dan Khaliqnya. Hubungan ini terwujud dalam sikap bathinnya serta tampak dalam ibadah yang dilakukan serta tercermin pula dalam sikap keseharian.[15]

Sedangkan Syaik Mahmud Syaltut menjelaskan bahwa Islam adalah agama Allah yang diperintahkannya untuk mengajarkannya tentang pokok-pokok serta peraturan-peraturannya kepada Nabi Muhammad saw. dan menugaskannya untuk menyampaikan agama tersebut kepada seluruh manusia mengajak mereka untuk melakukannya.[16]

Dalam buku Himpunan Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah disebut rumusan tentang al-Din (agama) sebagai salah satu dari kitab masalah lima. Agama, yakni agama Islam yang dibawa oleh Muhammad saw. ialah yang diturunkan Allah di dalam Qur’an yang tersebut dalam Sunnah yang shahih, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat.[17]

Seorang muballigh terkemuka, H. A. Gaffar Ismail, menerangkan bahwa Islam adalah nama agama yang dibawa oleh Muhammad saw. berisi kelengkapan dari pelajaran-pelajaran meliputi (a) kepercayaan, (b) seremoni peribadatan, (c) tata tertib penghidupan pribadi, (d) tata tertib pergaulan hidup, (e) peraturan-praturan Tuhan, (f) bangunan budi pekerti yang utama dan menjelaskan rahasia penghidupan yang kedua (akhirat).[18]

Dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah, dirumuskan tentang Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya, sejak anbi Adam, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada nabi penutup Muhammad saw., sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada ummat manusia sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan hidup materil dan sprituil, duniawi dan ukhrawi.[19]

Pada berbagai pembicaraan, kata-kata Islam sering disebut dengan mengikutkan kata-kata di awalnya dengan agama, sehingga menjadi agama Islam. Menurut Endang Saifuddin Anshari, agama Islam maknanya adalah pertama wahyu yang diturunkan oleh Allah swt. kepada Rasul-Nya untuk disampaikan  kepada segenap umat manusia sepanjang masa dan setiap persada. Kedua satu sistem keyakinan dan tata ketentuan Ilahi yang mengatur segala peri kehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam pelbagai hubungan, baik hubungan manusia dengan Tuhan maupun hubungan manusia dengan sesama manusia ataupun hubungan manusia dengan alam lainnya (nabati, hewani dan lain sebagainya). Ketiga bertujuan keridhaan Allah swt, kebahagian di dunia dan di akhirat, rahmat bagi segenap alam, keempat pada garis besarnya terdiri atas aqidah, syri’ah (yang meliputi ibadah dalam arti khas dan mu’amalah dalam arti luas) dan akhlak. Kelima bersumberkan Kitab Suci, yaitu kodifikasi wahyu Allah swt. untuk ummat manusia di atas planet bumi ini yaitu al-Qur’an al-Karim sebagai penyempurna wahyu-wahyu Allah sebelumnya, sejak manusia digelarkan ke atas persada buana ini yang ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah saw.[20]

Berdasarkan hal di atas, Islam dapat dimaknai dengan tunduk,  taat dan sejahtera. Makna Islam secara umum merupakan satu perilaku atau tindakan dan amalan taat dan patuh kepada  seluruh perintah Allah melalui ajaran  yang disampaikan oleh  Nabi Muhammad SAW.

Adapun ajaran Islam sering diistilah dengan syari’ah atau syari’ah Islam. Secara etimologi kata ini berarti نهج الطريق الواضح (suatu system atau metode yang jelas dan terang). Kata ini adakalanya juga dipinjamkan atau dipakaikan (مستعارة) terhadap jalan atau konsep ilahi (طريقة الإلهية). Maka dari kata ini ada dua hal yang diisyaratkannya, yaitu;

a.        Segala sesuatu yang ditundukkan Allah untuk kepentingan manusia di mana semua itu dapat menggiringnya menuju kemaslahatan dan kemakmuran dalam menjalani kehidupan

b.        Sesuatu yang ditetapkan dan digariskan oleh Allah berupa agama di mana hal ini akan menggiring dan membimbing manusia kepada suatu pilihan yang pas dan tepat.[21]

Dari hal ini dapat dipahami bahwa syari’ah atau ajaran Islam adalah pedoman, tata nilai dan ketentuan yang digariskan dan ditetapkan oleh Allah untuk kemaslahatan manusia dalam menjalani hidup di dunia serta bagaimana tentang hari akhir kelak.

Di samping itu, ada juga yang berpendapat bahwa makna etimologis (al-lughawiy) dari syari’ah adalah “jalan ke tempat pengairan, jalan yang harus diikuti atau tempat lalu air sungai”. Kemudian kata ini juga bisa berarti “jalan yang jelas dan membawa kepada kemenangan”. Dalam hal ini agama atau al-dîn yang ditetapkan Allah untuk manusia disebut juga dengan syari’ah, sebab umat Islam selalu melaluinya dalam kehidupan sehari-hari untuk memperoleh kemengan dan kebahagiaan. Adapun kesamaan makna syari’ah Islam dengan jalan yang dialui air adalah bahwa siapa yang mengikuti syari’ah ia akan mengalir dan bersih jiawanya. Allah menjadikan air sebagai penyebab kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan sebagaimana Dia menjadikan syari’ah sebagai penyebab kehidupan jiwa insani.[22]

Dengan demikian, di sini terdapat persamaan antara agama (al-dîn) dengan syari’ah, namun sebetulnya kedua kata ini memiliki sedikit perbedaan, sebab agama pada dasarnya adalah satu dan berlaku secara universal, sedangkan syari’ah berlaku untuk masing-masing umat yang berbeda dengan umat sebelumnya. Maka syari’ah Islam adalah ketentuan dan segala titah Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

 



[1] Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), edisi ketiga., h. 964

 

[2] Abû al-Husain Ahmad ibn Fâris ibn Zakariya selanjutnya disebut Ibn Zakariya, Mu’jam al-Maqâyîs fiy al-Lughah, (Beirut : Dâr al-Fikr, 1994), cet. Ke-1, h. 487

[3] Abû al-Qâsim Muhammad ibn Muhammad al-Râghib al-Ashfahâniy selanjutnya disebut al-Râghib al-Ashfahâniy, al-Mufradât fiy Gharîb al-Qur’ân, (Beirut : Dâr al-Ma’rifah, tth), h. 245

     [4] Ahmad Mushthafâ al-Marâghiy, Tafsîr al-Marâghiy, (Beirut: Dâr al-Fikr, t.th), Juz I, h. 199-201

[5] Ibid, h. 201

[6] Lihat juga Abû al-Qâsim Muhammad ibn Umar al-Zamakhsyariy al-Kawârizmiy selanjutnya disingkat dengan al-Zamakhsyariy, al-Kasysysâf ‘an Haqâ’iq al-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwil fiy Wujûh al-Ta’wîl, (Beirut: Dâr al-Ma’rifah, t.th), cet. ke-1, juz I, h. 602

[7] ‘Imâd al-Dîn Abu al-Fidâ’ Isma’îl ibn Katsîr al-Qursyiy al-Dimasqiy, Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, (Semarang: Thaha Futra, t.th), Juz IV, h. 218-219

[8] Al-Zamakhsyariy, op.cit, h. 379

[9] Al-Marâghiy, op.cit, Juz IX, h. 147              

[10]Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan, (Jakarta : Paramadina, 2000), cet. Ke-4, h. 2

[11] Endang mengartikan Islam menurut lughawi mengambil pendapat dari Afif Adu’ul Fatah Thabarah, Ruhu’d Dini ‘l-Islami, h. 17 dan Shalahuddin Sanusi, Dirasat Islamiyah, (Bandung: PTDI Senat Uswatun Hasanah Nagrek, Cicalengka, t.th), h. 9

 

[12] Endang Saifuddin Anshari, Kuliah al-Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1992), h. 68-69

 

[13] Ibid., h. 69

 

[14] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1985), cet. Ke-5, Jilid I, h. 24

[15] Muhammad Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: MIzan, 1997), cet. ke-14, h. 209 – 210

[16] Syaikh Mahmud Syaltut¸ Islam sebagai ‘Aqidah dan Syari’ah, terjemahan A. Gani dan B. Hamdani, (Jakarta: Bulan Bintang, 1967), h. 15, lihat juga, Endang Syaifudin Anshari, Kuliah al-Islam, (Jakarta: Rajawali, 1992), h. 70

[17] Himpunan Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah, (Yogyakarta: PP Muhammadiyah, 1969), h. 278

 

[18] Endang, op.cit., h. 71

 

[19] Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah ini diputuskan oleh Tanwir Muhammadiyah tahun 1969 di Ponorogo, melaksanakan amanat Muktamar Muhammadiyah ke-37 tahun 1968 di Yogyakarta, dan kemudian diubah dan diperbaiki oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah berdasar amanat dan kuasa Tanwir Muhammadiyah tahun 1970, lihat Musthafa Kamal Pasha, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam, (Yogyakarta: LPPI, 2000), h. 217. Sementara itu, MKCH ini dipertegas pelaksanakannya dalam Pedoman Hidup warga Muhammadiyah, sebagai keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta, lihat, PP Muhammadiyah, op.cit., h. iii

 

[20] Ibid., h. 76-77

 

[21] Al-Râghib al-Ashfahâniy, op.cit, h. 261

[22]Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, (Jakarta: Logos, 2000), jilid I, cet. ke-2, h. 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: