Dasar dan Tujuan Ajaran Islam: Suatu Kajian Teoritis

Islam adalah agama yang sempurna dan universal, ia berlaku sepanjang waktu, kapanpun dan di manapun (al-Islâm shâlih li kul zamân wa al-makân), Islam berlaku untuk semua orang dan untuk seluruh dunia. Maka dari itu, tentunya ajaran Islam memiliki dasar sebagai pondasi yang dijadikan sebagai acuan dan pedoman oleh komunitasnya di seluruh dunia ini. Adapun dasar dari ajaran Islam itu antara lain adalah;

a.       Al-Qur’an al-Karim

Secara etimologi kata al-Qur’an dan adalah bentuk mashdar dari kata قرأ yang berarti bacaan (المقروء). Adapun makna terminologis dari al-Qur’an adalah;

                                                      

 كلام الله تعالى المنزل على رسول الله صلى الله عليه وسلم باللسان العربي للإعجاز بأقصر سورة منه المكتوب فىالمصاحف المنقول بالتواتر المتعبد بتلاوته المبدوء بسورة الفاتحة المختوم بسورة الناس [1]

 

Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW berbahasa Arab yang melemahkan dalam bentuk yang ringkas (mu’jiz), tertulis dalam mushaf-mushaf, dinukilkan secara mutawatir, beribadah membacanya, dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas.

Di antara anugerah Allah yang terbesar bagi manusia adalah bahwasanya Allah tidak akan membiarkan manusia begitu saja dalam mengarungi kehidupan ini, Ia akan senantiasa memberi hidayah bagi hamba-hamba-Nya berupa fitrah atau potensi yang lurus (al-fitrah al-salîmah). Hal ini akan senantiasa menggiring manusia pada kebaikan dan kemaslahatan. Bahkan untuk menyempurnakan akhlaq dan peradaban manusia dalam hidup dan kehidupannya, Allah juga mengutus nabi dan rasul serta membawa kitab suci sebagai pedoman bagi manusia dalam kehidupannya. Sehingga manusia dapat hidup dalam lindungan wahyu dan akal sehat dalam menjalani hidup dan ia mampu menghadapi berbagai problema dan kesulitan. Tentu semua itu adalah dengan merujuk kepada al-Qur’an dan yang lainnya seperti sunnah nabi dan sebagainya.

Al-Qur’an adalah risalah sempurna yang diperuntukkan Allah bagi manusia, ia mencakup nash-nash, petunjuk dan dalil yang senantiasa menggiring dan menuntun manusia. Dengan ajarannya yang universal dan komprehensif, ia mencakup seluruh aspek dan sendi kehidupan manusia, sehingga manusia dapat meniti dan menempuh jalan yang pas, tepat dan selamat.

Dari defenisi al-Qur’an di atas, ada beberapa hal yang menjadi keistimewaan dan ciri khas dari al-Qur’an itu sendiri. Di antaranya adalah bahwasanya al-Qur’an itu adalah kalam Allah. Bukti bahwasanya al-Qur’an itu kalam Allah adalah kemukjizatannya, di mana dengan kemukjizatannya itu ia memberi tantangan (tahaddiy) kepada manusia untuk mendatangkan semisalnya. Al-Qur’an memberi tantangan kepada kafir Quraisy dan siapa saja yang mengingkarinya, yaitu dengan membuka peluang untuk mendatangkan semisalnya. Mula-mula mereka ditantang untuk mendatangkan al-Qur’an secara keseluruhan (QS al-Thur/ 52: 34); Kedua, mereka ditantang untuk mendatangkan sepuluh surat dari al-Qur’an (QS Hud/ 11: 13); Ketiga, mereka ditantang untuk mendatangkan satu surat dari al-Qur’an (QS Yunus/ 10: 38) dan, yang terakhir mereka ditantang untuk mendatangkan yang lebih kurang sama dengan satu surat dari al-Qur’an (QS al-Baqarah/ 2: 23).[2]

Menurut Azyumardi Azra (editor)[3] ada beberapa segi kemukjizatan al-Qur’an, antara lain yaitu:

1)      Kemukjizatan al-Qur’an dari segi kebahasaan

Di antara bentuk kemukjizatan al-Qur’an dari segi kebahasaannya antara lain adalah keseimbangan dalam pemakaian kata. Abd al-Razaq al-Naufal mengungkapkan setidaknya ada lima bentuk keseimbangan kosa kata dalam al-Qur’an, yaitu keseimbangan antara jumlah kata dengan antonimnya (seperti antara kata al-hayy dengan al-maut masing-masing sebanyak 145 kali), keseimbangan jumlah kata dengan sinonimnya (seperti al-harts dengan al-zirâ’ah yang berarti membajak atau bertani masing-masing sebanyak 14 kali, keseimbangan jumlah antara suatu kata dengan kata lain yang menunjukkan akibatnya (seperti kata al-infâq dengan al-ridhâ’ masing-masing sebanyak 73 kali), keseimbangan antara jumlah kata dengan dengan kata penyebabnya (seperti  al-isrâf/ pemborosan dengan al-sur’ah/ tergesa-gesa masing-masing sebanyak 23 kali).

Di samping itu juga terdapat konsistensi pemakaian huruf yang menjadi pembuka surah. Hasil penelitian Rasyad Khalifah memperlihatkan keajaiban al-Qur’an yang sekaligus memperlihatkan otentisitasnya, yaitu konsistensi pemakaian huruf yang digunakan sebagai pembuka surah. Dalam surah-surah yang dimulai dengan huruf, jumlah huruf dalam surah itu selalu habis dibagi 19, yang merupakan jumlah huruf  dalam basmalah. Bahkan semua kata dalam al-Qur’an yang terhimpun dalam basmalah juga habis bila dibagi dengan 19. sebagai contoh adalah huruf qâf yang merupakan pembuka surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali, yakni 3 x 19. Huruf nûn yang menjadi pembuka surah al-Qalam terulang sebanyak 133 kali, yaitu 7 x 19 dan lain-lain sebagainya.

Selanjutnya kemukjizatan al-Qur’an dari segi kebahasaannya adalah keindahan susunan kata dan pola-pola kalimatnya. Syekh Fakhruddin al-Razi, penulis kitab tafsir yang berjudul Mafâtih al-Ghaib, menyatakan bahwa kefasihan bahasa, keindahan susunan kata dan pola-pola kalimat al-Qur’an amat luar biasa. Sementara itu Qhadhi Abu Bakar dalam I’jâz al-Qur’ân menyatakan bahwa memahami kemukjizatan al-Qur’an dari sisi keindahan bahasanya jika dibandingkan dengan syiir dan sastra Arab, amat sukar ditandingi. Abu Hasan Hasim al-Quthajani menyatakan bahwa keluarbiasaan al-Qur’an itu antara lain terlihat dalam konsistensi, kefasihan bahasa dan keindahan susunan kalimatnya. Bahkan al-Qur’an amat sempurna dilihat dari semua segi, sehingga tidak mungkin menentukan tingkatan keindahan susunanya itu karena tidak ada alat untuk mengukurnya. Adapun bagian-bagian kebahasaan yang menjadi pusat perhatian tentang keindahan al-Qur’an itu antara lain dapat dilihat dari segi îjâz, tasybîh, majâz dan isti’ârah.

2)      Kemukjizatan al-Qur’an dari segi pemberitaan

Semua ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an secara keseluruhan merupakan mukjizat bagi para penantangnya. Namun terdapat bagian-bagian tertentu yang betul-betul îjâz dan siapapun tidak mungkin dapat melakukannya, yaitu menyangkut pemberitaan-pemberiataan ghaib, baik kisah-kisah lama yang luput dari penelitian sejarah maupun peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

Adapun di antara pemberitaan-pemberitaan tersebut antara lain adalah pemberitaan kisah-kisah lalu dan hal ini sekaligus menjadi mukjizatnya, yaitu pemaparannya tentang kisah-kisah lama yang sudah tidak hidup lagi dalam cerita-cerita rakyat Arab. Tentunya hal ini tidak mungkin ditemukan secara keseluruhan dalam kajian-kajian kesejarahan. Sebagai contoh adalah QS Hud/ 11: 49 yang berbunyi:

 

تلك من أنباء الغيب نوحيها إليك ما كنت تعلمها أنت ولاقومك من  قبل هذا

 

Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang kami wahyukan kepada Muhammad, tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak pula kaum sebelum ini (QS Hud/ 11: 49).

Ayat ini diturunkan dalam konteks pemberitaan kisah Nabi Nuh dan para pengikutnya yang menyelamatkan diri dari musibah banjir besar sebagai cobaan bagi para penantang dakwahnya. Al-Qur’an juga mengisahkan nabi-nabi lain seperti Nabi Ibrahim, Ismail. Luth, Ya’qub, Yusuf, Musa, Harun dan lain-lain. Semua itu tentunya sulit untuk diketahui manusia ketika itu tanpa adanya wahyu.

Di samping itu, al-Qur’an juga mengungkapkan pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa silam lewat rangkaian kisah-kisah, al-Qur’an juga mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Peristiwa-peristiwa yang digambarkan al-Qur’an dan akan terjadi setelah itu telah terbukti dalam sejarah. Sebagai contohnya adalah QS al-Qamar/ 54: 45, yaitu;

سيهزم الجمع ويولون الدبر

Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang (QS al-Qamar/ 54: 45).

Melalui ayat ini Allah memberitahu Muhammad SAW behwa kaum musyrikin Quraisy akan dapat dikalahkan. Ayat ini diturunkan semasa Rasul masih tinggal di kota Makkah. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 8 H, mereka dikalahkan secara total dalam peristiwa fath al-Makkah.

3)      Isyarat-isyarat keilmuan

Selain memiliki kekuatan dalam segi kebahasaan dan pemberitaan, al-Qur’an juga memperlihatkan keistimewaannya melalui ilustrasi-ilustrasi ajarannya  yang memberi isyarat ke arah pengembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Ilustrasi-ilustrasi ajarannya menyoroti banyak hal yang ada dalam kehidupan alam ini, baik mengenai proses terjadinya alam, mekanisme mengenai kehidupan makhluk-makhluk termasuk manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.[4] Padahal bangsa Arab zaman itu tergolong pada masyarakat yang lemah tradisi tulis baca serta lemah dari segi wawasan dan pengetahuan tentang berbagai bidang keilmuan, kecuali dalam aspek perdagangan yang sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Quraisy sejak masa nenek moyang mereka. Kontak mereka dengan orang-orang Byzantium dari Eropa Timur bukanlah kontak keilmuan, tetapi kontak perdagangan. Maka dari itu, al-Qur’an mengistilahkan mereka sebagai masyarakat ummiy (lemah tradisi tulis-bacanya). Demikian pula dengan Muhammad yang merupakan bagian dari anggota masyarakat Quraisy. Beliau tidak punya akses terhadap ilmu pengetahuan, baik khazanah keilmuan hasil peradaban masyarakat Yunani Kuno – yang lebih bercorak ilmu-ilmu kontemplatif dalam berbagai aspek kehidupan alam semesta dan tersimpan dengan utuh di bawah kekuasaan Byzantium – maupun ilmu-ilmu falsafah mistik dari Persia.

Namun demikian, satuhal yang harus disadari adalah bahwa al-Qur’an bukanlah buku ilmu pengetahuan, tetapi dalam proses penyampaian pesan-pesan ajarannya, al-Qur’an mengungkapkan berbagai ilustrasi tentang kehidupan alam dan kemudian ditangkap para ilmuwan sebagai isyarat ilmu pengetahuan. Sebagai contoh adalah ketika al-Qur’an mengungkap tentang proses kejadian alam semesta di mana dalam kajian ilmu pengetahuan modern  hal ini termasuk dalam kajian disiplin ilmu fisika.

Menurut Ahmad Baiquni[5], al-Qur’an memberi isyarat tentang bagaimana proses awal alam ini diciptakan. Isyarat itu terlihat antara lain dalam QS al-Anbiya’/ 21: 30 yang berbunyi;

 

أولم ير الذين كفروا أن السموات والأرض كنتا رتقا ففتقنهما وجعلنا من الماء كل شيء حي أفلا يؤمنون

 

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapakan mereka tiada juga beriman (QS al-Anbiya’/ 21: 30).

Ayat ini pada dasarnya merupakan seruan kepada orang-orang kafir untuk beriman kepada Allah dan tunduk kepada segala perintahnya, karena Tuhan adalah pencipta alam semesta, termasuk mereka yang kafir kepada-Nya. Tuhan memperlihatkan awal kejadian alam  di mana menurut informasi al-Qur’an, langit dan bumi pada awalnya satu, kemudian dipecah oleh-Nya sehingga terpisah-terpisah. Lalu apa yang dimaksud dengan langit, apa yang dimaksud dengan bumi dan bagaimana proses pemisahan tersebut? Inilah beberapa pertanyaan yang dapat dikembangkan dari ayat di atas yang memberi pertanyaan untuk berpikir kritis terhadap alam semesta.

Kalau ditafsirkan dalam bahasa ilmu pengetahuan, langit itu tiada lain adalah gugusan bintang-bintang yang berada di luar planet bumi, sedang bumi adalah planet tempat tinggal manusia.

Ayat di atas menjelaskan bahwa antara gugusan bintang-bintang dengan planet bumi pada awalnya bersatu, kemudian dipisahkan oleh Tuhan. Persoalan ini menurut Bauquni bisa terjawab kalau penyatuan tersebut pada gumpalan hidrogen dalam konsentrasi yang amat padat. Sedangkan pemecahan bumi dan langit adalah peristiwa ledakan dahsyat akibat suhu amat panas yang muncul karena gesekan-gesekan atas atom hidrogen yang memadat tersebut. Sesuai dengan analisis laboratorium fisika, kejadian alam berasal dari kondensasi hidrogen yang menimbulkan panas yang sangat tinggi, lalu terjadi ledakan besar yang membuat hamparan galaksi-galaksi, yang kemudian memadat karena suhu dingin. Salah satu galaksi tersebut adalah galaksi bima sakti yang memancarkan sinar (matahari) ke planet bumi, serta memberi kehidupan untuk berbagai jenis makhluk di planet bumi termasuk manusia.

Itulah sekilas tentang isyarat-isyarat ilmiah yang terdapat dalam al-qur’an. Di samping itu al-Qur’an juga masih memuat isyarat tentang ilmu pengetahuan lainnya seperti biologi, astronomi, kimia, geologi, ilmu kesehatan, hidrologi, demografi, ekonomi, perdagangan dan lain-lain sebagainya.

Dari gambaran di atas, terlihat bahwa sesungguhnya al-Qur’an memang berasal dari sisi Allah, sehingga sampai saat ini tidak satupun makhluk yang mampu untuk menandinginya, sebab al-Qur’an penuh dengan kemukjizatan sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Adapun ciri khas dan keutamaan lainnya yang dimiliki al-Qur’an berdasarkan defenisi sebelumnya adalah bahwa al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan tidak satupun yang memuat bahasa ajam (asing/ selain bahasa Arab). Kemudian ciri khas lainnya yang dimiliki al-Qur’an adalah bahwasanya al-Qur’an dinukilkan secara mutawatir (populer atau diketahui oleh banyak orang yang memustahilkan adanya kerja sama untuk membuat-buat atau mereka-reka). Dengan demikian penukilan al-Qur’an dapat diyakini dengan pasti, sebab hal ini berpatokan kepada keabsahan riwayat.[6]

Umat Islam sepakat bahawasanya al-Qur’an adalah hujjah bagi kaum muslimin serta wajib mengamalkan isi dan kandungannya. Di samping itu, tidak dibolehkan untuk berpaling darinya kecuali dalam hal atau suatu kejadian yang tidak ada dalil hukumnya, namun semua itu harus didasarkan pada akal sehat serta pemahaman yang benar terhadap hakikat syari’ah dan maqâshid al-syarî’ah. Adapun argementasi bahwasanya al-Qur’an merupakan hujjah yang harus diamalkan oleh seluruh manusia adalah karena al-Qur’an berasal dari sisi Allah SWT yang diturunkan untuk mengatur kehidupan manusia di bumi dan bukti bahwasanya al-Qur’an berasal dari sisi Allah adalah karena dia mengandung mukjizat yang tidak mampu ditandingi oleh siapapun.[7]

 

b.       Al-Sunnah Nabi

Secara bahasa sunnah berarti السيرة حسنة كانت أوقبيهة  (metode atau jalan yang baik atau jelek). Dalam hal ini سننتها berarti سرتها (melewati atau melalui).[8] Adapun sunnah secara istilah menurut para muhaddits adalah;

      

كل ماأثر عن الرسول صلى الله عليه وسلم من قول أوفعل أو تقرير أوصفة خلقية أوخلقية أوسيرة سواء أكان قبل البعثة كتحنثه فىغار حراء أم بعدها [9]

 

Seluruh yang berasal dari Rasulullah Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, sifat fisik ataupun akhlaq dan atau perjalanan hidup baik sebelum diangkat menjadi rasul seperti bertahannus di gua Hira’ ataupun sesudahnya

Dalam hal ini para muhaddits[10] terlihat lebih luas dalam mendefenisikan sunnah, sebab mereka memandang dan memposisikan Nabi sebagai figur yang senantiasa memberi petunjuk (hidayah) dan selalu memberi taushiyah kepada umatnya. Di samping itu Allah juga menginformasikan bahwasanya dia adalah suri tauladan yang paling baik. Sehingga mereka meriwayatkan dan menukilkan semua yang berasal dari Nabi, baik dari aspek perjalanan hidup, akhlaq, tingkah laku, berita, perkataan maupun perbuatan tanpa membedakan apakah itu berkaitan dengan hukum syara’ ataupun tidak.

Dalam hal ini sunnah dijadikan sebagai dasar ajaran Islam adalah berdasarkan perintah tegas dari Allah SWT yang terdapat dalam QS al-Nisa’/ 4: 59 yang berbunyi:

يايها الذين آمنوا أطيعوا الله و أطيعوا الرسول و أولى الأمر منكم فإن تنازعتم فى شيء فرده إلى الله و الرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الأخر ذالك خير وأحسن تأويلا

 

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS al-Nisa’/ 4: 59).

Adapun yang dimaksud dengan ungkapan “kembalikan ia kepada Allah” adalah kembalikan kepada kitab al-Qur’an al-Karim dan ungkapan “kembalikan ia kepada Rasul” adalah kembalikan kepada sunnah Nabi SAW.

Dalam hal ini umat Islam sepakat untuk menjadikan sunnah sebagai dasar ajaran Islam sebagaimana mereka menyepakati al-Qur’an sebagai dasar, sebab al-Qur’an sendiri selaku sumber tasyrî’ memerintahkan akan hal itu. Di samping itu sunnah juga merupakan penopang dan penguat terhadap keberadaan al-Qur’an itu sendiri. Adapun fungsi sunnah terhadap al-Qur’an al-Karim antara lain adalah;

1)      Memperkuat dan memperkokoh hukum yang terdapat dalam al-Qur’an

Dalam hal ini terdapat dua buah sumber hukum dan ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah nabi. Sebagai contoh adalah dalam masalah kewajiban mendirikan shalat, membayarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, naik haji ke baitullah bagi yang mampu, larangan untuk berbuat syirik, sumpah palsu, durhaka pada orangtua, membunuh tanpa hak, larangan memakan harta orang lain serta untuk berbuat baik kepada kaum wanita dan sebagainya.

2)      Memberi penjelasan lebih lanjut terhadap apa yang ada dalam al-Qur’an

Di dalam al-Qur’an banyak hal yang diperintahkan kepada umat Islam seperti perintah mendirikan shalat, menunaikan zakat, naik haji dan lain-lain sebagainya. Namun demikian semua itu masih bersifat umum dan universal, maka sunnah dalam hal ini tampil sebagai penjelas bagi al-Qur’an. Dalam hal ini sunnah tampil untuk menjelaskan yang masih mujmal (samar), mengkhususkan hal-hal yang masih bersifat umum dan universal serta men-taqyîd-kan sesuatu yang bersifat mutlaq dalam al-Qur’an dan lain-lain sebagainya.

3)      Adakalanya sunnah berdiri sendiri dalam menetapkan hukum

Dalam beberapa hal adakalanya sunnah tampil secara independen dalam menetapkan hukum syara’, yaitu ketika al-Qur’an tidak berbicara dalam suatu hukum, sehingga sunnah langsung tampil sebagai dalil hukum. Sebagai contohnya adalah hukum rajam terhadap zina yang muhshin, hukumam bagi orang yang memberi sumpah dan kesaksian, pengharaman emas dan permata bagi kaum laki-laki dan lain-lain sebagainya.[11]

Itulah pembahasan sekilas tentang dasar ajaran Islam, selanjutnya di sini akan diungkapkan sekilas tentang tujuan ajaran Islan. Tujuan ajaran Islam sering diistilah dengan maqâshid al-syarî’ah.

Islam merupakan agama anutan ummah seluruh dunia. Ia menjadi pegangan serta asas budaya hidup berbagai umat dan bangsa. Agama Islam  dikenali sebagai agama yang menyusun cara hidup yang meliputi  aspek keimanan, ibadah,  muamalah, siasah , sosial dan ekonomi.  Seluruh kehidupan dan keperluan manusia disusun secara lengkap oleh ajaran Islam. Islam disifatkan sebagai peraturan dan menu terbaik untuk manusia dan alam seluruhnya. Di sisi Allah hanya agama Islam yang diterima sebagai anutan dan pegangan. Maka dari itu, sudah pasti Islam mempunyai tujuan tersendiri terhadap ajarannya, di mana tujuan tersebut lebih dikenal dengan maqâshid al-syarî’ah.

Maqâshid al-syarî’ah adalah kandungan dan sasaran yang dituju oleh syara’ dalam seluruh hukum dan keagungannya. Dengan kata lain maqâshid al-syarî’ah adalah tujuan utama dari syari’ah serta rahasia-rahasia yang ditetapkan oleh Allah dalam seluruh hukum yang ditetapkan-Nya. Mengetahui maqâshid al-syarî’ah adalah masalah penting  untuk keberlangsungan hidup manusia, apalagi bagi para mujtahid, sebab ia sangan membutuhkannya ketika menggali hukum dan dalam memahami nash. [12]

Syari’ah telah digariskan dan ditetapkan Allah untuk betul-betul menjaga kemaslahatan hidup manusia, baik untuk sekarang maupun untuk masa yang akan datang. Tentunya semua itu adalah untuk melindungi dan memberi manfaat bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. Di samping itu, syari’ah juga bertujuan untuk melindungi manusia dari mudharat dan kerusakan. Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa maqâshid al-syarî’ah haruslah berdasarkan hal yang “tetap, jelas, teratur dan berkesinambungan (ثابتا ظاهرا منضبطا مطردا). ثابتا  (tetap) maksudnya adalah makna atau tujuan tersebut harus pasti, bisa direalisasikan atau berdasarkan dugaan yang kuat dan pasti. ظاهرا (jelas) maksudnya adalah terang dan jelas, sehingga memicu terjadinya perbedaan penentuan atau personifikasi tujuan. منضبطا  (tertib dan teratur) maksudnya adalah bahwa ukuran atau batas dari tujuan tersebut tidak meragukan, yaitu tidak berlebih dan tidak berkurang. مطردا (berkesinambungan) maksudnya adalah bahwasanya tujuan tersebut tidak berubah oleh perbedaan tempat dan waktu.[13]

Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa maqâshid al-syarî’ah bertujuan untuk memelihara dan menjaga keteraturan dan kesinambungan kehidupan di alam serta untuk mengontrol tindak tanduk manusia dari kehancuran dan kerusakan. Tentunya semua itu dilakukan dengan menciptakan kemaslahatan dan menjauhi kehancuran. Maka di sini akan diungkapkan macam-macam mashlahah ditinjau dari segi pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat, yaitu:

a.       Al-Dharûriyât

Al-Mashâlih al-Dharûriyah adalah kemaslahatan yang harus terwujud dalam kehidupan manusia, baik dalam beragama maupun dalam kehidupan dunia. Apabila salah satu darinya hilang, maka hancurlah kehidupan dunia, tersebarlah kejahatan dan hilanglah kenikmatan hidup serta pelakunya akan beroleh iqab di akhirat kelak. Kemaslahatan ini terkumpul dalam lima hal, yaitu yang berkaitan dengan agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.

b.      Al-Hâjiyât

Al-Mashâlih al-hâjiyâh adalah kemaslahatan yang dibutuhkan manusia untuk meringankan beban dan menghilangkan kesulitan. Apabila hal ini kurang atau tidak ada, dapat memberatkan manusia dalam kehidupannya, tetapi tidak sampai menghancurkan tatanan hidup masyarakat.

Sebagai contoh adalah dalam masalah ibadah, di mana Allah memberikan keringanan menjamak dan mengqashar shalat bagi orang yang sedang dalam perjalanan, membolehkan berbuka puasa bagi orang yang sedang sakit atau musafir dan lain-lain sebagainya.

c.       Al-Tahsîniyât

Mashlahah ini adalah kemaslahatan yang dipergunakan untuk menjaga muru’ah dan harga diri, yaitu untuk menjaga kebiasaan yang baik di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan untuk menciptakan akhlaqul karimah. Apabila mashlahah ini hilang atau berkurang maka hal itu tidaklah sampai menyebabkan rusaknya tatanan hidup bermasyarakat atau membawa kesusahan bagi masyarakat, namun hal itu dapat menyebabkan terjadinya pola hidup yang kotor dan tidak bermoral dalam pandangan akal manusia. Sebagai contoh dalam masalah ibadah adalah disyaria’tkannya thaharah dan menutup aurat ketika melaksanakan shalat dan lain-lain sebagainya.

d.      Al-Mukammilât

Untuk menyempurnakan kemaslahatan-kemaslahatan sebelumnya, Allah juga mensyari’atkan beberapa hukum lainnya, yaitu yang berkaitan dengan al-dharûriyât, al-hâjiyât dan al-tahsîniyât. Sebagai contoh yang berhubungan dengan al-dharûriyât adalah seperti dalam memelihara akal, Allah mengharamkan meminum khamar walau itu hanya sedikit. Dalam hal yang berhubungan dengan al-hâjiyât, Allah mensyaratkan sekufu bagi calon suami istri. Hal ini dimaksudkan agar terjadi kecocokan antara seorang suami dengan istrinya. Dalam masalah al-tahsîniyât diciptakan adab dan sopan santun dalam membuang hadas serta dianjurkannya thaharah atau dianjurkannya untuk tidak membatalkan ibadah yang sedang dikerjakan dan lain-lain.[14]


[1]Wahbah al-Zuhailiy, Ushûl al-Fiqh al-Islâmiy, (Beirut: Dar al-Fikr, 1998), Jilid I, cet. ke-2, h. 421; Lihat juga Mannâ’ Khalîl al-Qaththân, Mabâhits fiy Ulûm al-Qur’ân, (Kairo: Mansyurât al-Ashr al-Hadîts, t.th), h. 20

[2] Muhammad Quraish Shihab, op.cit,  h. 27

[3]Azyumardi Azra, Sejarah dan Ulum al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001), cet. ke-3, h. 113 – 154

[4]Muhammad Ismail Ibrahim, al-Qur’an wa I’jâzuh al-Ilm, (Kairo: Dar al-Fikr, t.th), h. 24

[5]Ahmad Baiquni, Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern, (Bandung: Pustaka, 1983), h. 17 – 25

[6]  Wahbah al-Zuhailiy, op.cit, h. 422 – 424

[7]  Ibid, h. 431

[8] Muhammad Ajjâj al-Khatîb, Ushûl al-Hadîts, Ulûmuhu wa Mushthalahuhu, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), h. 17

[9]  Ibid, h. 19

[10]  Dalam hal ini muhadditsîn menyamakan antara pengertian hadits dengan pengertian sunnah, Ibid.

[11]  Wahbah al-Zuhailiy, op.cit, h. 461 – 464

[12]  Wahbah al-Zuhailiy, op.cit, Juz II, h. 1045

[13]  Ibid, h. 1047

[14]Ibid, h. 1048 – 1053

2 Tanggapan

  1. Mantap Uan. Cuma perlu dikaji lebih dalam lagi.

  2. Tolong nyiak… masukkannya yaaaa… biar lebih bagus lagi tulisan dalam blog… ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: