Kurikulum dan Tahun Ajaran Baru

Memasuki tahun ajaran baru 2008/2009, guru pada sekolah/madrasah sudah mulai disibukan dengan perencanaan dan perangkat pembelajaran, mulai dari menyiapkan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, program semester dan program tahunan.

Dalam konteks pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, tugas ini merupakan tugas pokok dari seorang guru sebelum memulai pembelajaran.

Pada tahun sekarang, sebagian guru menyadari bahwa tugas untuk menyiapkan perangkat pembelajaran agak begitu terasa mudah, karena beberapa perangkat telah ada pada tahun sebelumnya, namun pada sisi lain, perlu disiapkan lebih intens lagi agar proses pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan.

                                                     

Khusus pembelajaran PAI pada sekolah/madrasah, yang namanya silabus, telah disiapkan secara nasional oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Agama, yang diterbitkan tahun 2007 melalui Direktorat Pendidikan Madrasah. Analisis yang muncul adalah apakah model silabus yang ada demikian, dijadikan sebagai pedoman atau ditelan mentah-mentah oleh guru-guru. Menurut hemat penulis, silabus yang ada tersebut, perlu pengkajian yang mendalam dan hanya dijadikan sebagai acuan dan pedoman untuk membuat silabus pada tingkat satuan pendidikan.

 

Dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 17 ayat 2 dinyatakan bahwa sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK. Pada bagian lain, sesuai dengan panduan yang diterbitkan oleh BSNP bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Sedangkan KTSP ini terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.

 

Dalam hal ini, maka silabus semestinya merupakan tanggungjawab satuan pendidikan untuk mengembangkannya. Dalam satuan pendidikan ada unsur guru, maka tanggungjawab melakukan pengembangan silabus tetap berada pada setiap guru mata pelajaran, di bawah bimbingan Kepala Sekolah/madrasah dengan mengacu kepada Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Di samping itu, pengembangan silabus yang dilakukan oleh setiap guru mata pelajaran, harus mengacu kepada panduan yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan.

 

Kepada teman-teman guru, kalimat yang pantas diucapkan adalah selamat memulai pembelajaran dengan semangat dan motivasi baru dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar dan melatih peserta didik, pada tingkat satuan pendidikan masing-masing, dengan melakukan inovasi terhadap kurikulum yang ada. Inovasi yang dilakukan paling minimal adalah memperbarui silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Dalam hal melakukan perubahan ini, dapat dilakukan pada kegiatan pembelajaran dalam silabus dan langkah-langkah pembelajaran (baik langkah awal, inti dan penutup) dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Bravo guru …. dan bravo untuk semua pelaksana dan pemerhati pendidikan.

About these ads

2 Tanggapan

  1. ya…mulailah arena perjuangan untuk tahun ajaran baru…
    kalau untuk pendidikan tinggi, apa ada kerangka integrasi Islam dan sains pak?

  2. Dalam kajian Islam, tidak ada dikotomi ilmu pengetahuan antara ilmu islam dan ilmu umum. Asalkan ilmu itu mendatangkan kesejahteraan terhadap kehidupan umat manusia maka itulah ilmu dalam Islam. Dalam hal ini di dunia pendidikan tinggi, hal tersebut juga berlaku, karena selalu akan adanya integrasi ilmu pengetahuan dengan dengan islam. Hal ini telah dimulai oleh Ismail Raji’ al-Faruqi, dengan konsepnya islamisasi ilmu pengetahuan. Dalam konteks ini, al-Faruqi mengajak para aktifis keilmuan untuk tidak membedakan ilmu agama dengan ilmu umum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: