Tugas Pendidik dalam Islam

Menurut Abuddin Nata, secara sederhana tugas pendidik adalah mengarahkan dan membimbing para murid agar semakin meningkat pengetahuannya, semakin mahir keterampilannya dan semakin terbina dan berkembang potensinya. Sedangkan tugas pokok pendidik adalah mendidik dan mengajar. Mendidik ternyata tidak semudah mengajar. [1] Dalam proses pembelajaran pendidik harus mampu mengilhami peserta didik melalui proses belajar mengajar yang dilakukan pendidik sehingga mampu memotivasi peserta didik mengemukakan gagasan-gagasan yang besar dari peserta didik.

Dalam konteks mengajar, pendidik mesti menyadari bahwa setiap mata pelajaran mestinya membawa dan mengandung unsur pendidikan dan pengajaran. Unsur pendidikan, dimaknai dapat membina dan menempa karakter pendidik agar berjiwa jujur, bekerja secara cermat dan sistematik. Sedangkan unsur pengajaran dimaknai untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik kepada setiap mata pelajaran yang diterimanya.

Secara khusus, bila dilihat tugas guru pendidikan agama (Islam) adalah di samping harus dapat memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran agama, juga diharapkan dapat membangun jiwa dan karakter keberagamaan yang dibangun melalui pengajaran agama tersebut. Artinya tugas pokok guru agama menurut Abuddin Nata adalah menanamkan ideologi Islam yang sesunggunya pada jiwa anak.[2]

Pada uraian yang lebih jelas Abuddin Nata lebih merinci bahwa tugas pokok guru (pendidik) adalah mengajar dan mendidik. Mengajar disini mengacu kepada pemberian pengetahuan (transfer of knowledge) dan melatih keterampilan dalam melakukan sesuatu, sedangkan mendidik mengacu pada upaya membina kepribadian dan karakter si anak dengan nilai-nilai tertentu, sehingga nilai-nilai tersebut mewarnai kehidupannya dalam bentuk perilaku dan pola hidup sebagai manusia yang berakhlak.

Apabila pendidik dilihat dalam konteks yang luas, maka tugas pendidik bukan hanya di sekolah (madrasah) tetapi dapat juga melaksanakan tugasnya di rumah tangga. Menurut Ahmad Tafsir,[3] tugas mendidik di rumah tangga dapat dilaksanakan dengan muda, karena Tuhan (Allah) telah menciptakan landasannya, yaitu adanya rasa cinta orang tua terhadap anaknya yang merupakan salah satu dari fitrahnya. Rasa cinta terlihat misalnya dalam Qur’an surat al-Kahfi ayat 46 dan surat al-Furqan ayat 74. Cinta kepada anak-anak telah diajarkan juga oleh Rasulullah kepada para sahabat. Seorang Baduwi datang kepada Muhammad saw. dan bertanya, “Apakah engkau menciumi putra-putri engkau? Kami tidak pernah menciumi anak-anak kami.” Orang yang mulia itu berkata, “Apakah kamu tidak takut Allah akan mencabut kasih sayang dari hatimu? (H.R Bukhari).

Ramayulis, menguraikan tugas pendidik sebagai warasat al-anbiya (pewaris nabi),  pada hakekatnya mengemban misi rahmat li al-‘alamin yakni suatu misi yang mengajak manusia untuk tunduk dan patuh pada hukum-hukum Allah, guna memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Untuk melaksanakan tugas demikian, pendidik harus bertitik tolak pada amar ma’ruf nahi mungkar, menjadikan prinsip tauhid sebagai pusat kegiatan penyebaran misi iman, islam dan ihsan, kekuatan yang dikembangkan oleh pendidik adalah individualitas, sosial dan moral.[4]  Muh. Uzer Usman, menjelaskan bahwa tugas guru (pendidik) sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berati meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.    Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.[5]

Pada bagian lain, Usman menyoroti tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para siswanya. Pelajaran apapun yang diberikan hendaknya dapat motivasi bagi siswanya dalam belajar.

Sedangkan tugas guru pada bagian lain adalah terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pada bidang ini guru merupakan komponen strategis yang memilih peran yang penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa.[6]

Muhaimin menjelaskan tugas pendidik (guru) sekaligus dengan karakteristiknya yang diawali menguraikannya dari istilah yang dipakai terhadap guru dalam literatur kependidikan Islam yakni ustadz, mu’alim, murabby, mursyid, nudarris, mu’addib. Ustadz, karakteristik dan tugasnya adalah orang yang berkomitmen terhadap profesional, yang melekat pada dirinya sikap dedikatif, komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta sikap continous improvement. Mu’allim, karakteristik dan tugasnya adalah orang yang menguasai ilmu dan mampu mengembangkannya serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, atau sekaligus melakukan transfer ilmu/pengetahuan, internalisasi, serta amaliyah (implementasi). Murabby, karakteristik dan tugasnya adalah orang yang mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, serta mampu mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya. Mursyid, karakteristik dan tugasnya adalah orang yang mampu menjadi model atau sentral identifikasi dirinya atau menjadi pusat anutan, teladan dan konsultan bagi peserta didiknya. Mudarris, karakteristik dan tugasnya adalah orang yang memiliki kepekaan intelektual dan informasi, serta memperbarui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan, dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. Mu’addib, karakteristik dan tugasnya adalah orang yang mampu menyiapkan peserta didik untuk bertanggungjawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa depan.[7]

Berkaitan dengan tugas pendidik dalam bidang kemanusiaan ini, Muhammad Fadhil al-Jamili, menguraikan bahwa pendidik sebagai manusia dalam melaksanakan tugasnya harus menjauhi sifat materialistis, mempunyai tanggungjawab sosial, selalu membekali dengan keilmuan dan mengajarkannya kepada peserta didik, menempatkan peserta didik sebagai manusia yang patut dihormati.[8]

Ahmad Tafsir menjelaskan bahwa tugas guru (pendidik) ialah mendidik. Mendidik sebagian dilakukan dalam bentuk mengajar sebagian dalam bentuk memberikan dorongan, memuji, menghukum, memberi contoh, membiasakan. Dalam pendidikan di sekolah, tugas guru (pendidik) sebagian besar adalah mendidik dengan cara mengajar. Tugas pendidik di dalam rumah tangga membiasakan, memberikan contoh yang baik, memberikan pujian, dorongan yang diperkirakan menghasilkan pengaruh positif bagi pendewasaan anak (peserta didik).[9]

Penelusuran Ahmad Tafsir dalam literatur Barat, tugas guru (pendidik) selain mengajar ialah berbagai macam tugas yang sesungguhnya bersangkutan dengan mengajar, yaitu tugas membuat persiapan mengajar, tugas mengevaluasi hasil belajar yang selalu bersangkutan dengan pencapaian tujuan pengajaran. Tafsir, lebih jauh merinci tugas pendidik adalah (a) wajib menemukan pembawaan yang ada pada anak didik dengan berbagai cara seperti observasi, wawancara, melalui pergaulan, angket, (b) berusaha menolong anak didik mengembangkan pembawaan yang baik dan menekan perkembangan pembawaan yang buruk agar tidak berkembang, (c) memperlihatkan kepada anak didik tugas orang dewasa dengan cara memperkenalkan berbagai bidang keahlian, keterampilan agar anak didik memilihnya dengan tepat, (d) mengadakan evaluasi setiap waktu untuk mengetahui apakah perkembangan anak didik berjalan dengan baik, (e) memberikan bimbingan dan penyuluhan tatkala anak didik menemui kesulitan dalam mengembangkan potensinya. [10]

Ahmad Tafsir dalam uraiannya menyimpulkan bahwa tugas guru (pendidik) dalam Islam ialah mendidik muridnya (peserta didik) dengan cara mengajar dan dengan cara-cara lainnya, menuju tercapainya perkembangan maksimal sesuai dengan nilai-nilai Islam. Untuk memperoleh kemampuan melaksanakan tugas itu secara maksimal, sekurang-kuranya harus memenuhi syarat-syarat: (1) tentang umur, harus sudah dewasa, (2) tentang kesehatan, harus sehat jasmani dan rohani, (3) tentang kemampuan mengajar, ia harus ahli, (4) harus berkesusilaan dan berdedikasi tinggi. Dalam konsep Islam, syarat untuk menjadi guru meliputi: (1) umur, harus sudah dewasa, (2) kesehatan, harus sehat jasmani dan rohani, (3) keahlian, harus menguasai bidang yang diajarkannya dan menguasai ilmu mendidik (termasuk ilmu mengajar), dan (4) harus berkepribadian muslim.[11]

Sementara itu, al-Ghazali menyusun sifat-sifat yang harus dimiliki pendidik adalah (1) memandang murid seperti anaknya sendiri, (2) tidak mengharapkan upah atau pujian, tetapi mengharapkan keridhaan Allah dan berorientasi mendekatkan diri kepada-Nya, (3) memberi nasehat dan bimbingan kepada murid bahwa tujuan menuntut ilmu ialah mendekatkan diri kepada Allah, (4) Menegur murid yang bertingkah laku buruk dengan cara menyidir atau kasih sayang, (5) tidak fanatik terhadap bidang studi yang diasuhnya, (6) memperhatikan fase perkembangan berpikir murid, (7) memperhatikan murid yang lemah dengan memberinya pelajaran yang mudah dan jelas dan (8) mengamalkan ilmu.[12]

Abdullah Nashih Ulwan berpendapat bahwa tugas guru (pendidik) ialah melaksanakan pendidikan ilmiah, karena ilmu mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan kepribadian dan emansipasi harkat manusia.[13] Abdurrahaman An-Nahlawi menjelaskan bahwa tugas pendidik ialah mengkaji dan mengajarkan ilmu Ilahi, sesuai dengan Firman Allah: Surat Ali Imran ayat 79:

 

Artinya:  Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, al-Hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi hamba-hambaku, bukan hamba-hamba Allah”. Akan tetapi (hendaknya dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (Q.S Ali Imran/3: 79)

 

An-Nahlawi memberikan pandangnya bahwa tugas pokok guru (pendidik) dalam Islam adalah: (1) tugas pensucian, guru (pendidik) hendaknya mengembangkan dan membersihkan jiwa peserta didik agar dapat mendekatkan diri kepada Allah, menjauhkannya dari keburukkan dan menjaganya agar tetap berada pada fitrahnya, (2) tugas pengajaran, guru (pendidik) hendaknya menyampaikan berbagai pengetahuan dan pengalaman kepada peserta didik untuk diterjemahkan dalam tingkah laku dan kehidupannya.[14] Sejalan dengan ini, al-Ghazali, yang dikutip Samsul Nizar, menjelaskan pula bahwa tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, mensucikan serta membawa hati manusia untuk taqarrub ila Allah. Para pendidik hendaknya mengarahkan peserta didik untuk mengenal Allah lebih dekat melalui seluruh ciptaan-Nya.[15]

Berkaitan dengan pendidikan ilmiah ini, hal yang utama harus dikembangkan oleh pendidik adalah pengembangan akal peserta didik. Dengan melakukan hal demikian peserta didik dapat mengembangkan akalnya secara maksimal. Sehingga tokoh pendidik Padang, Abdullah Ahmad menjelaskan bahwa sesungguhnya akal merupakan nikmat Allah yang terbesar kepada manusia.[16] Manusia sebagai pendidik akan memberikan pemahaman pemikiran yang terintegral dalam proses pembelajaran, sehingga pendidik merasa bertanggungjawab untuk mengembangkan akal peserta didik sebagai konsekuensi pekerjaannya.[17]

Pada sisi yang berbeda, pendidik bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sekaligus sebagai pembimbing, pelatih bahkan pencipta perilaku peserta didik.[18] Dalam tugasnya sehari-hari yang menjadi fokus utama pendidik mesti melingkupi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, karena ke depan tugas pendidik semakin kompleks, sehingga diharapkan pendidik untuk bekerja lebih keras dengan tekun dan loyalitas untuk menciptakan dan mengembangkan sumber daya manusia.

Pada batasan yang berbeda Samsul Nizar merinci tugas pendidik adalah pertama, sebagai pengajar (instruksional) yang bertugas merencanakan program pengajaran, melaksanakan penilaian setelah program tersebut dilaksanakan, kedua, sebagai pendidik (edukator) yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan kepribadian sempurna (insan kamil), seiring dengan tujuan penciptaan-Nya, ketiga, sebagai pemimpin (managerial) yang memimpin, mengendalikan diri (baik diri sendiri, peserta didik maupun masyarakat), upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan dan partisipasi atas program yang dilakukan.[19]

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.[20]

Dalam mengajarkan Pendidikan Agama Islam, tugas pendidik menurut Malik Fadjar adalah menanamkan rasa dan amalan hidup beragama bagi peserta didiknya. Dalam hal ini yang dituntut adalah bagaimana setiap pendidik agama mampu membawa peserta didik untuk menjadikan agamanya sebagai landasan moral, etik dan spritual dalam kehidupan kesehariannya.[21]

Dari uraian di atas dapat dirumuskan bahwa tugas pendidik adalah melaksanakan proses pembelajaran yang terintegrasi dalam kegiatan mendidik, mengajar dan melatih sehingga terlaksananya empat pilar pendidikan yakni belajar mengetahui (learning to know), belajar berbuat (learning to do), belajar menjadi seseorang (learning to be), dan belajar hidup bermasyarakat (learning to live together).[22]

Agar pendidik dapat melaksanakan tugasnya, sebagai pendidik mesti mempunyai sifat profesionalisme. Abuddin Nata menjelaskan bahwa sifat profesionalisme itu dapat dilihat dari ciri-ciri: (a) mengandung unsur pengabdian, di mana pendidik mesti dalam melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan kepada masyarakat, pelayanan dapat berupa pelayanan individu, dan bersifat kolektif. (b) mengandung unsur idealisme, di mana bekerja sebagai pendidik bukan semata-mata mencari nafkah, tetapi mengajar merupakan untuk menegakkan keadilan, kebenaran, meringankan beban penderitaan manusia. (c) mengandung unsur pengembangan, di sini maknanya adalah pendidik mempunyai kewajiban untuk menyempurnakan prosedur kerja yang mendasari pengabdiannya secara terus menerus.[23]

Berkaitan dengan profesional ini, Muh. Uzer Usman menjelaskan bahwa guru (pendidik) profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru (pendidik) dengan kemampuan maksimal. Agar profesional dapat berjalan sesuai dengan aturanya, maka profesi mempunyai persyaratan khusus, yakni: (a) menuntut adanya keterampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam, (b) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya, (c) menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai, (d) adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya, dan (e) memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.[24]

Sikap profesional tidak bisa bertahan dengan sendirinya tanpa dilakukan pengembangan dan penambahan dari segi keilmuan. Agar pendidik selalu mempunyai sikap profesi secara kontiniu, maka harus menguasai hal-hal sebagai berikut: pertama,  menguasai bidang keilmuan, pengetahuan dan keterampilan yang akan diajarkan kepada peserta didiknya, kedua, harus memiliki kemampuan menyampaikan pengetahuan  yang dimilikinya secara efisien dan efektif, ketiga, harus memiliki kepribadian dan budi pekerti yang mulia yang dapat mendorong para siswa untuk mengamalkan ilmu yang diajarkannya.[25]

Di samping itu, sikap profesional pendidik juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang terdapat dalam sekolah/madrasah. Dalam hal ini, Ahmad Tafsir menjelaskan cara menerapkan sikap profesional di sekolah/madrasah, yakni: pertama, adanya profesional pada tingkat yayasan atau pemegang kekuasaan penyelenggara sekolah/madrasah, kedua, menerapkan profesional pada tingkat pimpinan sekolah, ketiga, menerapkan profesional pada tingkat tenaga pengajar, dan keempat, melaksanakan profesional tenaga tata usaha sekolah/madrasah.[26]

Ahmad Barizi, editor buku Holistika Pemikiran Pendidikan A. Malik Fadjar, menguraikan bahwa pendidik yang profesional tidak saja knowledge based, tetapi lebih bersifat competency based, yang menekankan pada penguasaan secara optimal konsep keilmuan berdasarkan nilai-nilai etika dan moral.[27] Bahkan pendidik mesti melaksanakan konsep humanisme religius. Humanisme religius adalah pengembangan individu dalam rangka menerapkan dan meraih tanggungjawab  (istikmal atau perfection), sehingga ucapan, cara bersikap dan tingkah laku guru ditunjukkan agar peserta didik bisa menjadi insan kamil yakni sempurna dalam kaca mata peradaban manusia dan sempurna dalam standar agama.[28]

Di samping pendidik memiliki sifat profesionalisme dalam melaksanakan tugasnya, dalam era globalisasi sekarang yang serba kompleks, pendidik harus melakukan hal-hal sebagai berikut: pertama, diperlukan adanya kegiatan orientasi secara periodik antar pendidik, kedua, mengarahkan penataran dan penyetaraan yang sedang berlaku kepada pengembangan wawasan dan bukan semata pada hal-hal yang bersifat teknis, seperti hanya berkisar pada persoalan instruksionalnya tetapi lebih jauh dari itu adalah yang bersifat penalaran konsepsional, ketiga, ada baiknya buku paket untuk pendidik, karena keterbatan pendidik memiliki sumber belajar dan informasi.[29]

Pelaksanaan tugas pendidik di lapangan sebagai tenaga profesional akan menghadapi problema yang serius, sehingga dapat menghambat tugas-tugasnya sehari-hari. Agar tugas tugas tersebut dapat berjalan lancar, maka pendidik harus bersandar dan mempraktekkan kewajiban-kewajibannya sebagai berikut: pertama, menekuni pekerjaan seorang pendidik harus ikhlas dalam mengajarkan pelajaran kepada para pendidik dengan teliti dan yakin akan pemahaman yang ditangkap oleh mereka, serta mengikutsertakan ujian dari satu waktu ke waktu lain. juga tidak membiarkan sedikitpun waktu yang telah ditentukan untuk mengajar berlalu tanpa tanpa hasil bagi para pendidik, kedua, seorang guru harus mengambil contoh yang baik dari Rasulullah saw. sebagai orang yang pertama yang mengajarkan manusia tanpa mengharapkan balasan apapun secara keseluruhan, ketiga, seorang guru harus puas dengan gaji yang diberikan negara baginya dan harus berkeyakinan bahwa pahala yang besar hanya dari Allah, serta harus selalu mengingat sabda Rasulullah saw., keempat, seorang guru harus memperhatikan para pelajar dalam belajarnya seperti perhatiannya terhadap anak kandungnya sendiri, karena statusnya sebagai pengganti kedua orang tuanya.[30]

Pada bagian lain, pendidik harus memiliki krakteristik profesional, yakni; pertama, komitmen terhadap profesionalitas, kedua, menguasai dan mampu mengembangkan serta menjelaskan fungsi ilmu dalam kehidupan, mampu menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, ketiga, mendidik dan menyiapkan peserta didik yang memiliki kemampuan berkreasi, mengatur dan memelihara hasil kreasinya supaya tidak menimbulkan malapeta bagi diri, masyarakat dan lingkungannya, keempat, mampu menjadikan dirinya sebagai model dan pusat anutan (centre of self-identification), teladan, dan konsultan bagi peserta didiknya, kelima, mampu bertanggungjawab dalam membangun peradaban di masa depan (civilization of the future).[31]

Sedangkan M. Arifin menegaskan bahwa guru (pendidik) yang profesional adalah guru (pendidik) yang mampu mengejawantahkan seperangkat fungsi dan tugas keguruan dalam lapangan pendidikan berdasarkan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan khusus di bidang pekerjaan yang mampu mengembangkan kekaryaannya itu secara ilmiah di samping mampu menekuni profesinya selama hidupnya.[32]

Di samping pendidik memiliki sifat profesional, pendidik menurut an-Nahlawi harus memiliki sifat. Sifat pendidik tersebut adalah: pertama, harus memiliki sifat rabbani, kedua, hendaknya menyempurnakan sifat rabbaniahnya dengan keikhlasan, ketiga, hendaknya mengajarkan ilmunya dengan sabar, keempat, ketika menyampaikan ilmu kepada peserta didik, harus memiliki kejujuran dengan menerapkan apa apa yang ia ajarkan dalam kehidupan pribadinya, kelima, harus senantiasa meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan kajiannya, keenam, harus cerdik dan terampil dalam menciptakan metode pengajaran yang variatif serta sesuai dengan situasi dan materi pelajaran, ketujuh, harus mampu bersikap tegas dan meletakkan sesuatu sesuai proporsinya, kedelapan, harus memahami psikologi peserta didik, kesembilan, harus peka terhadap fenomena kehidupan, kesepuluh, harus memiliki sikap adil terhadap seluruh peserta didiknya. [33]

 


 

 

 

[1] Abuddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam, (Jakarta: Grasindo, 2001), h. 134. Pada bagian lain Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Bogor, Kencana, 2003), h. 145-146 mendefenisikan mengajar dengan penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan proses belajar mengajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni tujuan instruksional (kompetensi dasar) yang ingin dicapai, materi yang akan diajarkan, pendidik dan peserta didik yang harus memainkan peranan serta ada dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan, serta sarana dan prasarana belajar mengajar yang tersedia. Di samping itu, menurut Al-Syaibany, dalam mengajar, pendidik harus mengetahui dasar-dasar umum metode mengajar. Paling tidak menurut Al-Syaibani dasar umum itu adalah dasar agama dan dasar bio-psikologis. Lihat Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafatut Tarbiyah Al-Islamiyah, terj. Hasan Langgulung, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 586-591

[2] Abuddin Nata, Paradigma …..op.cit., h. 135. Menanamkan ideologi Islam ini, Abuddin Nata, mengutip pendapat Muhammad S.A. Ibrahimmy, — sarjana pendidikan Islam Bangladesh — , dimana menurut Ibrahimmy, pendidikan Islam dalam pengertian sebenarnya adalah suatu sistem pendidikan yang menginginkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan cita-cita Islam, sehingga ia dengan mudah dapat membentuk kehidupan dirinya sesuai dengan ajaran Islam. Ruang lingkup pendidikan Islam harus mengalami perubahan menurut tuntutan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ruang lingkup pendidikan Islam itu juga makin luas.

 

[3] Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), cet.ke-5, h. 135-136

[4] Ramayulis, op.cit., h. 88. Dalam uraiannya tentang tugas pendidik, Ramayulis menyamakan antara tugas pendidik dengan peranan pendidik. Dalam kaitan ini penulis cenderung membedakan antara tugas pendidik dengan peranan pendidik

 

[5] Muh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 7. Lihat juga, Muhaimin, Pengembangan… op.cit., (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005), h. 50. Dalam uraiannya Muhaimin menjelaskan bahwa tugas mendidik, mengajar dan melatih dalam konteks pendidikan nasional. Dalam konteks pendidikan Islam, karakteristik ustadz selalu tercermin dalam segala aktifitasnya sebagai murabby, mu’allim, mursyid, mudarris, dan mu’addib. Pernyataan yang sama dikemukan oleh Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, 2000, h. 37. Dalam uraiannya, Djamarah menjelaskan tugas guru (pendidik) sebagai suatu profesi menuntut kepada guru untuk mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mendidik, mengajar dan meltih anak didik adalah tugas guru sebagai suatu profesi. Tugas guru sebagai pendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik. Tugas guru sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Tugas guru sebagai pelatih berarti mengembangkan keterampilan dan menerapkannya dalam kehidupan demi masa depan anak didik.  Tugas kemanusiaan salah satu segi dari tugas guru, karena guru harus terlibat dengan khidupan di masyarakat dengan interaksi sosial. Guru harus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak didik. Guru harus dapat menempatkan diri sebagai orang tua kedua, dengan mengemban tugas yang dipercayakan orang tua kandung/wali anak didik dalam jangka waktu tertentu. Di bidang kemasyarakatan guru mempunyai tugas mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara Indonesia yang bermoral Pancasila.

[6] Ibid. Lihat juga Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Bogor, Kencana, 2003), h. 142-143. Dalam uraiannya Nata menjelaskan ciri-ciri profesionalisme pendidik adalah: pertama, harus menguasai bidang ilmu pengetahuan yang akan diajarkannya dengan baik. Kedua, harus memiliki kemampuan menyampaikan atau mengajarkan ilmu yang dimilikinya (transfer of knowledge) kepada murid-muridnya dengan efektif dan efisien . Ketiga, harus berpegang teguh kepada kode etik profesional yakni memiliki akhlak yang mulia.

 

[7] Muhaimin, Pengembangan…. op.cit., h. 49-50.

 

[8] Muhammad Fadhil al-Jamili, al-Falsafah al-Tarbiyah fi al-Qur’an, (t.tp: Dar al-Kitab al-‘Arabiy, t.th), h. 13-17

 

[9] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan….., op.cit., h. 78-79

 

[10] Ibid., h. 79. Uraian tentang rincian tugas guru, Ahmad Tafsir mengutip pendapat Ag. Soejono dalam bukunya Pendahuluan Ilmu Pendidikan Umum, (Bandung: Cv Ilmu, 1982), h. 62.

 

[11]Ibid., h. 80-81

 

[12] Al-Ghazali, op.cit., h. 212-223, lihat juga Hery Noer Aly, op.cit., h. 96-99

 

[13] Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyah al-Awlad fi al-Islam, (Beirut: Darul Salam, 1994) cet.III, terjemahan Jamaluddin Miri, Pendidikan Anak dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 2002), h. 301

 

[14] Abdurrahaman an-Nahlawi, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha fi al-Bait wa al-Madrasah wa al-Mujtama’, (Bairut, Libanon: Dar al-Fikr al-Mu’asyir, 1983) edisi Indonesia terj. Shihabuddin, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), h. 170. Hal yang sama juga dikutip oleh Hery Noer Aly, op.cit. h. 95-96

 

[15] Samsul Nizar, op.cit., h. 44

 

[16] Lihat Amirsyahruddin, Integrasi Imtaq dan Iptek dalam Pandangan Dr. H. Abdullah Ahmad, (Padang: Syamsa Offset, 1999), h. 35. Dalam penggunaan akal ini, Abdullah Ahmad — menurut penelitian Amirsyahruddin — terpengaruh dari surat ar-Rum ayat 8 dan surat al-Isra’ ayat 36

 

[17]Khalil Abu al-‘Ainin, Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah fi al-Qur’an al-Karim, (t.tp: Dar al-Fikr al-‘Araby, 1980), h. 167

 

[18]Ahmad Barizi, Holistika Pemikiran Pendidikan A. Malik Fadjar, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005), h. 188-189

 

[19]Samsul Nizar, loc.cit

.

[20] Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), h. 20

 

[21] A. Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta:  Fadjar Dunia, 1999), h. 42-44)

[22] Rumusan empat pilar pendidikan dapat dilihat dalam Jacques Delors, et.al., Learning The Treasure Within, (France: Unesco Publishing, 1996), h. 86-97. Lihat juga Fasli Jalal dan Dedi Supriadi, editor, Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, (Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2001), h. liii

 

[23] Abuddin Nata, Paradigma ….. op.cit., h. 136-138

 

[24] Muh. Uzer Usman, op.cit., h. 14-15

 

[25] Abuddin Nata, op.cit., h. 139-140

 

[26] Ahmad Tafsir, op.cit., h. 116-119

 

[27] Ahmad Barizi, op.cit., h. 190

[28] Abdurrahaman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik (Humanisme Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam), (Yogyakarta; Gama Media, 2002), h. 196-197

 

[29] Ahmad Barizi, op.cit., 193-194

 

[30] Syaikh Hasan Hasan Manshur, Manhajul Islam fi Tarbiyyah al-Syabab, (Cairo: Al Ahram, 1997), Edisi Indonesia terj. Abu Fahmi Huaidi¸ Metode Islam dalam Mendidik Remaja, (Jakarta: Mustaqiim, 2002), h. 145-148

 

[31] Muhaimin, Wacana… op.cit., h. 216-217. Lihat juga Imam Tholkah dan Ahmad Barizi, op.cit., h. 34-35 dan h. 222-223, Berkaitan dengan profesionalisme ini, Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi menjelaskan profesionalisme pendidik dikaitkan dalam segi akuntabilitas publik, konteks pembelajaran dan pendekatan pembelajaran. Profesional dalam segi akuntabilitas publik maknanya adalah pendidik mesti kapabilitas personal, pendidik sebagai inovator dan sebagai developer. Profesional dalam segi konteks pembelajaran maknanya pendidik yang profesional dalam bidang definisi, klasifikasi, metode dan teknik pembelajaran serta norma-norma dan batas minimal keberhasilan peserta didik. Profesional dalam segi pendekatan pembelajaran maknanya pendidik harus bisa membuat model pembelajaran dalam bentuk pendidik menyampaikan dan peserta didik menerima pelajaran, pembelajaran aktif yang berpusat pada peserta didik, situasi interaktif antara pendidik dan peserta didik, anak didik dimotivasi untuk mencari, menemukan dan memecahkan masalah sendiri, pengelolaan kelas pembelajaran.

 

[32] H. M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 106

 

[33] Abdurrahman an-Nahlawi, op.cit., h. 170-176

 

About these ads

2 Tanggapan

  1. MaNtaP !!!

    teRima Kassiiihh ^_____^”

  2. MantaP …. !!

    TrimA Kasiiih bapaKKk,,,, ;)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: